Bab Tiga Puluh: Teman
Halaman (1/3)
Ruan Qing dan Huo Xi menghabiskan sarapan yang hambar. Setelah mengantar kepergian Huo Xi dengan pandangan, Ruan Qing terus merasa seolah-olah pria itu telah menyadari sesuatu.
Ruan Qing menekan rasa gelisah dalam hatinya. Seharusnya tidak.
Tadi, dia sama sekali tidak mendengar suara hati Huo Xi.
Sepertinya Huo Xi masih belum mencurigainya.
Seusai makan, Ruan Qing beralasan bahwa sahabatnya mengajaknya belajar di perpustakaan. Dia meminta sopir mengantarnya ke sana dan menolak pengawalan.
Setelah pengurus rumah berbicara dengan Huo Xi, barulah pria itu menyetujuinya.
Entah mengapa, Huo Xi seolah-olah sedang takut akan sesuatu. Setiap kali Ruan Qing pergi sendirian, dia selalu mengirim pengawal untuk mengikutinya, seakan-akan takut Ruan Qing tersesat atau... berhubungan dengan seseorang.
Siapa yang sedang dia waspadai?
Sorot penuh pertimbangan melintas di mata Ruan Qing.
Jangan-jangan dia takut ada orang yang sedang merencanakan sesuatu terhadap dirinya?
Ruan Qing tahu, sekalipun Huo Xi tidak menempatkan orang untuk mengawasinya secara terang-terangan, diam-diam dia tetap akan mengirim seseorang untuk membuntutinya.
Satu-satunya saat Ruan Qing berhasil menyingkirkan para pengawal adalah ketika dia pergi ke apartemennya di pusat kota. Dia memiliki tiga unit apartemen di sana, dan dua di antaranya tidak tercatat atas namanya. Sang Yu dia sembunyikan di salah satu unit tersebut. Sekalipun Huo Xi curiga, dia tidak memiliki bukti untuk membuktikannya.
Mercedes hitam itu perlahan berhenti di depan perpustakaan. Begitu turun dari mobil, Ruan Qing mendengar suara jernih yang berseru riang, “Qingqing! Aku di sini!”
Di tangga berdiri seorang gadis mengenakan gaun putri berwarna merah muda dan membawa tas ransel kecil. Wajahnya yang bulat tampak begitu manis dan cantik. Siapa lagi kalau bukan Yu An’an?
Begitu melihatnya, mata Ruan Qing langsung berbinar. Senyum cerah merekah di wajahnya saat dia melangkah cepat menghampiri.
“An’an!”
Yu An’an berlari-lari kecil ke arahnya seperti anak rusa yang ceria, lalu meraih lengan Ruan Qing sambil merajuk, “Qingqing, sudah berapa lama kamu tidak mengajakku bermain? Kenapa tiba-tiba mengajakku belajar di perpustakaan hari ini?”
Sambil berkata begitu, dia pura-pura marah dan menggembungkan pipinya.
Ruan Qing tersenyum lebar, mengangkat tangan, lalu mengusap kepala Yu An’an dengan lembut.
“Sebentar lagi kan mulai sekolah. Kita belajar lebih awal untuk mengulang pelajaran. Burung yang bodoh harus terbang lebih dahulu, mengerti?”
“Hmph!” Yu An’an mendengus tidak puas. “Kamu itu juara pertama di angkatan, seorang gadis jenius pula. Masih perlu mengulang pelajaran? Memangnya kamu bisa membohongi siapa?”
Melihat Yu An’an yang lincah dan menggemaskan di hadapannya, senyum Ruan Qing semakin penuh kasih sayang.
“Tentu saja perlu. Ilmu itu tidak ada habisnya. Aku juga harus terus berkembang.”
“Baiklah~” Yu An’an mengerucutkan bibir, lalu mengaitkan lengannya lebih erat pada lengan Ruan Qing. “Kamu tidak tahu, ibuku sebenarnya ingin mengurungku di rumah dan menyewa guru les untuk memberiku pelajaran tambahan. Aku susah payah membawamu keluar sebagai penyelamat. Aku bilang Ruan Qing akan belajar bersamaku, barulah dia setengah hati menyetujuinya.”
Yu An’an mengedipkan mata besarnya dan berkata sambil terkekeh, “Sekarang, di mata ibuku, kamu benar-benar seperti kartu bebas hukuman. Kalau nanti aku dimarahi, aku akan mengirimimu pesan. Kamu harus datang menyelamatkanku!”
Ruan Qing tak kuasa menahan tawa.
“Jadi ternyata aku punya kegunaan seperti itu. Baiklah, kalau kamu mendapat masalah, datang saja kepadaku.”
“Tentu saja!” Mata Yu An’an berbinar. Dengan nada berlebihan dia berkata, “Qingqing adalah siswi terpintar dan paling disukai semua orang! Ibuku menyukaimu, ayahku menyukaimu, kakakku menyukaimu, aku juga menyukaimu! Kakakku bahkan sangat, sangat menyukaimu!”
Tiba-tiba matanya berbinar lebih terang. Dia mengayunkan lengannya dengan penuh semangat.
“Lihat, siapa itu!”
Ruan Qing mengikuti arah telunjuk Yu An’an. Di sana tampak Yu Shulin mengenakan sweter santai putih. Rambut pendek cokelatnya jatuh sembarangan di dahi, kulitnya putih, dan raut wajahnya tampan serta lembut. Dia benar-benar tampak seperti kakak tetangga yang cerah dan menawan.
“Kak Shulin.”
Ruan Qing memiringkan kepalanya sedikit dan menyapa dengan sopan, senyum tipis menghiasi wajahnya.
Mata Yu An’an berkilauan penuh harap saat memandang Ruan Qing. Nada suaranya menyiratkan sedikit kebanggaan.
“Aku sengaja memanggil kakakku untuk menemani kita. Bagaimana? Mengejutkan, kan?”
Tatapan Yu Shulin terpaku pada Ruan Qing. Ujung telinganya memerah, dan dia berkata dengan terbata-bata, “...Adik Qingqing, sungguh... sungguh kebetulan.”
Begitu mendengarnya, Yu An’an tak kuasa memutar bola mata.
“Kebetulan apanya? Aku tahu kamu senang melihat Qingqing, tapi tidak perlu sampai segugup ini, kan? Bicaramu saja sampai tidak lancar.”
Wajah Yu Shulin seketika memerah seluruhnya. Dengan malu dan kikuk, dia berkata, “Ma... maaf.”
Melihat wajah malu Yu Shulin, Yu An’an tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa, dia menepuk lengan Ruan Qing.
“Ya ampun, Yu Shulin! Coba lihat wajahmu di cermin. Merah sekali! Menggemaskan banget!”
Yu Shulin merasa kesal sekaligus malu. Dia melotot kepada Yu An’an dan berpura-pura garang.
“Yu An’an, jangan keterlaluan!”
Yu An’an segera menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
“Maaf, aku terlalu bersemangat. Kamu tidak bersemangat, sama sekali tidak bersemangat. Sudah, kan?”
Ruan Qing juga geli melihat kejadian kocak itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Kak Shulin masih sama seperti waktu kecil. Mudah sekali merasa malu.”
Halaman (2/3)
Melihat Ruan Qing yang tersenyum cerah, cantiknya bagaikan sinar matahari hangat di musim semi, jantung Yu Shulin berdebar tak terkendali. Detaknya begitu keras, seolah-olah hendak meloncat keluar dari tenggorokan.
“Ayo, ayo! Kita segera masuk dan belajar!”
Suara Yu An’an terdengar riang ketika dia berlari ke depan, sama sekali tidak menunggu dua orang di belakangnya.
Yu Shulin berjalan diam-diam di sisi Ruan Qing. Dia menggenggam ujung bajunya sedikit lebih erat, berusaha menenangkan kegugupan di dalam hati. Namun, detak jantungnya justru semakin kencang, seolah-olah hendak menerobos keluar dari dadanya.
Dia berusaha menenangkan diri, tetapi tenggorokannya terasa tercekat oleh sesuatu. Suaranya terdengar agak serak.
“Adik Qingqing, sudah lama kita tidak bertemu.”
Setelah mengucapkannya, dia diam-diam menyesal. Mengapa kalimat itu terdengar begitu kaku? Jangan-jangan Ruan Qing menganggapnya aneh?
Ruan Qing menoleh memandang Yu Shulin. Senyum di wajahnya sehangat sinar matahari, sementara matanya melengkung seperti bulan sabit.
“Kak Shulin, memang sudah lama sekali kita tidak bertemu. Rasanya sudah lama, lama sekali.”
Nada suaranya lembut. Setiap kata yang diucapkannya seolah melompat-lompat di ujung hati Yu Shulin.
“Hmm...”
Yu Shulin mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk begitu rendah hingga hampir masuk ke kerah bajunya, sementara semburat merah dengan cepat menjalar di wajahnya.
Dia diam-diam mengeluhkan dirinya sendiri. Sudah bertahun-tahun berlalu, mengapa setiap kali bertemu Ruan Qing dia masih semudah itu merasa malu?
Ruan Qing memiringkan kepalanya dan bertanya dengan penuh perhatian, “Kak Shulin, bagaimana kehidupanmu di universitas? Kudengar kehidupan di universitas sangat berbeda dengan di sekolah menengah.”
Yu Shulin sedikit mengangkat kepala. Tatapan mereka kebetulan bertemu dengan mata Ruan Qing yang jernih. Hatinya bergetar, dan dia buru-buru memalingkan pandangan sambil menjawab dengan pura-pura tenang, “Lumayan. Aku sudah cukup terbiasa.”
Setelah mengatakan itu, dia berhenti sejenak. Nada suaranya mengandung sedikit penyesalan.
“Hanya saja sekarang aku benar-benar sibuk. Aku tidak bisa sering mengajak Yu An’an bermain bersamamu. Aku merindukan kalian.”
Ruan Qing menghela napas pelan. Wajahnya menampakkan sedikit keharuan.
“Benar juga. Waktu berlalu begitu cepat. Semua orang terus tumbuh dewasa. Setelah dewasa, hal-hal yang harus dilakukan semakin banyak dan tanggung jawab yang dipikul pun semakin berat. Mungkin nanti, waktu yang bisa kita habiskan bersama seperti ini akan semakin sedikit.”
Ada sedikit kesepian melintas di matanya, seolah-olah dia sedang mengenang masa muda yang tak akan pernah kembali.
Mendengar itu, hati Yu Shulin seperti tersentak. Entah mengapa, dia mendadak merasa kehilangan.
Tanpa sadar, dia berkata, “Tidak akan begitu. Sesibuk apa pun aku, aku pasti akan meluangkan waktu. Sekalipun nanti semua orang sibuk, kita tetap tidak boleh kehilangan kontak.”
Halaman (3/3)