Bab Dua Puluh Sembilan
Huo Xi tampak tenang, menatap lurus ke arah Ruan Qiang dengan nada suara yang datar tanpa emosi. Tatapan itu seolah sedang memandang orang asing yang tidak penting.
Ruan Qiang melangkah maju dengan raut wajah kesal, lalu membentak, "Jangan berpura-pura bodoh di depanku! Kalau bukan karena kau yang bermain di belakang layar, bagaimana mungkin Ruan Qing berani berbicara seperti itu kepadaku? Dulu dia selalu menuruti kata-kataku, tidak pernah seperti ini!" Tangannya mengayun di udara dengan emosi yang meluap-luap.
Huo Xi mencibir, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan sinis. Tatapannya pada Ruan Qiang dipenuhi rasa jijik yang tak disembunyikan. "Apa kau benar-benar tidak sadar mengapa dia berubah seperti ini? Kau setiap hari begitu memihak istri dan anak tirimu, sementara Ruan Qing kau telantarkan, bagaimana mungkin dia tidak menjauh darimu?" Huo Xi sedikit mengangkat dagunya, matanya memancarkan penghinaan yang nyata terhadap Ruan Qiang.
"Ha!" Ruan Qiang tertawa nyaring karena marah, namun tawanya terdengar menyeramkan. "Jangan kira kau bisa membodohiku dengan kata-kata itu! Aku tidak percaya! Jangan lupa, kau bisa mencapai posisi hari ini berkat bantuanku! Tanpa diriku, bisa kah kau semulus ini?" Ruan Qiang menegakkan lehernya, bersikap seolah dirinya berada di pihak yang benar.
Huo Xi mengerutkan kening, matanya seketika setajam pedang. Tanpa gentar, ia membalas, "Bantuan apa? Aku sudah bersyukur jika kau tidak membuat masalah setiap hari! Jika bukan karena kau adalah adik iparku, apakah kau pikir aku mau berulang kali membereskan kekacauan yang kau perbuat di luar sana?" Huo Xi melipat tangan di dada, menatap Ruan Qiang dengan aura yang mendominasi.
Wajah Ruan Qiang seketika memerah padam seolah titik lemahnya telah disentuh. Ia membelalakkan mata dan berteriak ke arah Huo Xi, "Huo Xi, apa maksudmu! Kau pikir aku bodoh? Kau membantuku karena hubungan keluarga, atau karena kau merasa bersalah dan takut aku menyeretmu saat mereka mengetahui hubungan kita!" Sembari berbicara, Ruan Qiang menunjuk Huo Xi dengan jari yang gemetar menahan amarah.
Tatapan Huo Xi seketika mendingin, memancarkan aura membekukan. Ia melangkah maju dan menekankan setiap kata, "Ruan Qiang, jaga ucapanmu!" Nada dingin itu seolah mampu menusuk hingga ke tulang.
Namun, Ruan Qiang yang sudah benar-benar tersulut amarah tidak memedulikan peringatan itu dan terus berteriak, "Jangan kira aku tidak tahu tentang kematian Huo Si..."
"Brak!" Sebelum Ruan Qiang menyelesaikan ucapannya, Huo Xi tiba-tiba berbalik, menyambar vas bunga seharga ratusan ribu yang ada di atas meja, lalu membantingnya keras tepat di samping kaki Ruan Qiang. Vas itu hancur berkeping-keping. Dada Huo Xi naik-turun dengan napas yang memburu. Ia memelototi Ruan Qiang dan meraung, "Ruan Qiang, ini peringatan terakhir untukmu, jaga ucapanmu!"
Suasana di ruang kerja seketika menjadi tegang hingga udara terasa membeku. Pelayan di luar yang mendengar suara benturan keras itu ketakutan hingga wajahnya pucat pasi, mereka bergegas menjauh dari ruang kerja karena takut terseret dalam ketegangan tersebut.
Sementara itu, di dalam kamar, Ruan Qing yang sedang mengamati rekaman CCTV mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku jarinya memutih.
Matanya dipenuhi dengan hawa dingin yang kelam, wajahnya yang putih kini kehilangan seluruh rona darahnya. "Benar saja, mereka berdua tahu bahwa kematian Ibu tidak sederhana... Mereka semua membohongiku." Ruan Qing mencibir dalam hati. "Ha! Bodoh sekali aku, baru menyadari kebusukan di antara mereka sekarang!"
Huo Xi mendekati Ruan Qiang dan berbisik di telinganya, "Jika tidak ingin mati, kubur hal itu dalam-dalam di perutmu! Jika tidak, besok kau sudah bisa ditemukan di selokan air!"
Dalam sekejap, Ruan Qiang yang tadi angkuh mendadak pucat pasi seperti tikus yang ekornya terinjak. Tatapannya pada Huo Xi kini dipenuhi ketakutan. "Kau sudah gila!"
Huo Xi menunjukkan senyum sinis. "Kalau tidak percaya, silakan coba saja."
Ruan Qiang pun pergi meninggalkan tempat itu dengan terhuyung-huyung seolah melarikan diri.
Ruan Qing yang menyaksikan adegan itu dari layar monitor hanya terdiam. Ia menyipitkan mata, kilatan rasa penasaran melintas di matanya. Ia membatin, pamannya ini ternyata benar-benar tidak sederhana. Apa sebenarnya yang dia bisikkan kepada Ruan Qiang barusan? Bisa membuat Ruan Qiang ketakutan seperti itu, sungguh langka.
Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah jendela dan menyinari tempat tidur yang empuk. Ruan Qing terbangun dengan perlahan, meregangkan tubuh, lalu turun ke bawah untuk sarapan setelah membersihkan diri. Begitu memasuki ruang makan, ia melihat pelayan sudah menyiapkan meja penuh dengan makanan, mulai dari hidangan lokal hingga barat. Susu kedelai, cakwe, dan bakpao masih mengepulkan uap panas, mantau susu tampak putih dan empuk, telur goreng berwarna kuning keemasan, dan roti panggang tertata rapi, menyebarkan aroma yang menggugah selera.
Huo Xi sudah berpakaian rapi dengan setelan jas formal, rambutnya ditata tanpa cela. Ia duduk di samping meja makan sambil fokus menatap laporan keuangan di tabletnya. Di samping tangannya terdapat secangkir kopi hitam yang pahit, uapnya membumbung tinggi, memenuhi ruangan dengan aroma kopi yang khas. Ruan Qing mengerutkan hidungnya saat melihat cangkir kopi itu; hanya dengan melihatnya saja, ia sudah merasa pahit di mulutnya. Ia tidak mengerti mengapa Huo Xi gemar sekali minum kopi di pagi hari.
"Paman." Ruan Qing menyimpan kecurigaan di dalam hati, namun di permukaan ia bersikap sangat penurut. Dengan suara manis dan senyuman yang pas, ia menyapa pria itu.
Huo Xi mendongak mendengar suara itu. Saat melihat Ruan Qing, wajahnya segera berubah ramah. Matanya menyipit dan ia mengangguk sembari berkata, "Qingqing sudah bangun? Tidurmu nyenyak semalam?" Nada suaranya persis seperti seorang paman yang sangat menyayangi keponakannya.
Ruan Qing mengangguk patuh, sudut bibirnya terangkat memperlihatkan lesung pipi yang samar. "Cukup nyenyak." Gayanya persis seperti seorang gadis yang polos dan naif.
"Kemarin ayahmu datang mencarimu, pelayan bilang kalian bertengkar?" Huo Xi sedikit mengerutkan kening, menunjukkan raut wajah penuh kasih sayang. Ia menatap Ruan Qing dengan lembut lalu melanjutkan, "Paman juga tidak habis pikir dengan ayahmu itu. Anak kandung sendiri tidak disayangi, malah melindungi dua orang luar yang penuh ambisi." Saat mengucapkan kata "orang luar yang penuh ambisi", nada suaranya mengandung nada menghina dan benci.
Mendengar itu, Ruan Qing menundukkan pandangannya, bulu matanya yang panjang sedikit bergetar, menunjukkan raut sedih. Dengan suara yang sedikit tercekat, ia berkata, "Tidak apa-apa, aku tidak sedih. Bukankah aku masih punya Paman?" Sembari berkata demikian, ia diam-diam melirik reaksi Huo Xi.
Huo Xi merasa puas dengan ucapan Ruan Qing. Senyum di wajahnya semakin lebar, tatapannya kini dipenuhi kasih sayang. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Ruan Qing dengan lembut. "Kau ini anak yang terlalu pengertian. Jika ibumu tahu kau begitu penurut, dia pasti akan merasa sangat tenang."
Ruan Qing mengangguk patuh lagi, namun di dalam hatinya ia mencibir dingin.
Huo Xi menatap Ruan Qing, tetap dengan senyum hangat di wajahnya, lalu berkata dengan lembut, "Ayo makan."