Bab 67: Aksara Kuno dan Tiga Pilar Suci
Pemandangan budaya di Kota Kanaz selalu menampilkan perpaduan sempurna antara alam dan ilmu pengetahuan. Manusia dan Pokémon bersantai berjalan-jalan di jalanan, serta berbagai restoran dan kafe yang memadukan unsur Pokémon dengan harmonis.
Berdiri di tepi jalan dan memandang ke arah timur laut, bayang-bayang Gunung Cerobong yang menjulang tinggi menembus awan dapat terlihat samar-samar.
“Di sana banyak sekali manusia,” ujar Genggar tiba-tiba.
Hu Yang mengikuti arah pandangnya dan melirik ke sana, lalu berkata, “Mungkin ada pameran atau acara semacam itu.”
Saat di Kota Oren, ia juga kerap melihat para pecinta Pokémon mengadakan pertemuan di taman. Misalnya, para penggemar Machamp yang mengagumi otot-otot kuat, berkumpul untuk saling berbagi kecintaan pada Pokémon itu. Pertama kali melihatnya, Hu Yang mengira itu semacam pesta aneh.
Tapi karena penasaran, ia mendekat dan memperhatikan, baru sadar bahwa mereka hanya berbagi pesona Machamp semata.
Sedangkan pameran di hadapannya sekarang...
Hu Yang membawa Genggar mendekati keramaian, belum juga tiba di depan, terdengar suara lembut seorang wanita.
“Konon, pada zaman dahulu kala, dunia ini kosong tanpa apa pun, hingga suatu hari, muncul Groudon yang mewakili kehendak daratan, dan Kyogre yang mewakili kehendak lautan.”
“Groudon mengangkat daratan, dan Kyogre memenuhi lautan. Saat kedua Pokémon ini bertemu, mereka bertarung dahsyat demi memperebutkan energi alam dan memperluas wilayah kekuasaan masing-masing.”
“Kemudian, sang dewa langit turun tangan menghentikan pertarungan itu, dan mengurung kedua Pokémon tersebut di dalam gua untuk tidur panjang.”
“Daratan tempat kita berpijak sekarang lahir dari pertarungan antara dewa daratan Groudon dan dewa lautan Kyogre.”
“Setelah itu, sebuah Pokémon raksasa misterius dengan kekuatannya membagi daratan itu menjadi beberapa bagian, lalu menariknya ke berbagai penjuru planet ini.”
“Wilayah Hoenn milik kita sekarang adalah salah satu bagian yang dipindahkan itu.”
“Wah, hebat sekali! Pokémon yang bisa memindahkan daratan, sebesar apa dia?” tanya seorang bocah lelaki berbaju biru dengan antusias.
Wanita berpenampilan cerdas yang tengah memperkenalkan sejarah Hoenn tersenyum dan menjawab, “Mungkin, lebih besar dari Gedung Devon milik kita?”
Bocah itu bertanya lagi, “Tapi kalau mereka sebesar itu, kenapa tidak pernah ada yang melihat?”
Wanita itu tertawa, “Konon, Pokémon legendaris itu bisa mengubah ukuran tubuhnya, sama seperti prinsip Poké Ball yang kita gunakan untuk menangkap Pokémon.”
“Aku tahu itu!” seru seorang pemuda berpakaian pelatih perjalanan, “Beberapa Pokémon mengecilkan tubuh mereka untuk menghemat energi, bahkan bisa berubah menjadi wujud energi atau sinyal listrik lalu masuk ke kondisi tidur! Teknologi transfer Poké Ball yang dikembangkan Profesor Zhenghui dan timnya juga berdasarkan prinsip ini!”
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum, “Benar sekali!” Matanya bersinar penuh harapan, “Aku sungguh berharap suatu hari bisa menyaksikan secara langsung keberadaan agung dan misterius itu!”
Hu Yang yang berdiri di pinggir hanya diam membisu.
Ia benar-benar ingin berkata: jika Groudon dan Kyogre benar-benar muncul, kau tak akan berpikir begitu lagi.
Sebab, baik dalam permainan maupun anime, setiap kemunculan mereka menyebabkan perubahan besar di seluruh wilayah Hoenn. Gempa bumi dahsyat, hujan badai yang tiada henti, awan gelap menutupi langit—seluruh suasana nyaris seperti akhir dunia.
Di salah satu kisah, Daigo mengendalikan tiga pilar suci dan bertarung melawan Groudon dan Kyogre selama tiga hari tiga malam, hingga akhirnya tewas kelelahan.
Hanya saja, Hu Yang tidak tahu seperti apa wujud Rayquaza di dunia ini. Apakah akan seperti Rayquaza hitam di film Hoopa, atau Rayquaza yang dihajar Deoxys.
Yang sedang diadakan di sini adalah pameran sejarah dan legenda Hoenn.
Hu Yang bersama Genggar menelusuri papan pengumuman yang memuat informasi kuno.
Bagi manusia di dunia ini, kemunculan terakhir Groudon dan Kyogre sudah terjadi ribuan tahun lalu. Waktu yang begitu panjang, ditambah tak ada saksi mata, membuat sebagian orang meragukan keberadaan mereka.
Tak banyak literatur yang mencatat Groudon dan Kyogre, namun dari sedikit catatan yang ada, misteri dan kekuatan mereka tetap terasa.
Misalnya saja: “Di mana ia melintasi, menjadi daratan; lautan luas menelan segalanya.”
Bahkan ada yang melukis wujud Groudon dan Kyogre berdasarkan imajinasi sendiri. Tapi menurut Hu Yang, kecuali warna merah dan biru, sama sekali tidak mirip.
Namun, ketika Hu Yang beralih ke papan berikutnya, ia dikejutkan oleh sebuah foto situs peninggalan bersejarah.
Sang pemotret memegang senter di tangan kiri dan kamera di tangan kanan, menekan tombol rana ke dinding gua.
Bagian dinding itu diterangi cahaya senter, menampilkan tulisan kuno, sementara bagian gua lainnya gelap gulita.
Tulisan kuno di dunia ini...
Hu Yang tidak bisa membacanya. Ia mencoba menggunakan kemampuannya untuk mengidentifikasi.
Sesaat kemudian, tulisan-tulisan itu berubah menjadi informasi yang jelas di benaknya.
“Kami tinggal di dalam gua ini, hidup di sini.”
“Semua ini berkat Pokémon.”
“Tapi, kami menyegel Pokémon itu.”
“Sebab, ia sungguh menakutkan.”
“Orang-orang pemberani, mereka yang penuh harapan akan masa depan, bukalah pintu itu! Pokémon abadi ada di dalamnya!”
“Regigigas... (karena kerusakan, bagian akhir tak terbaca).”
“...(tak terbaca karena kerusakan).”
“Segalanya pada akhirnya akan terbuka.”
Hu Yang tertegun.
Bukankah ini adalah situs peninggalan yang menyegel tiga pilar suci? Jika ia tidak salah ingat, tempat ini disebut Ruang Batu Pengumuman. Setelah teka-tekinya dipecahkan, akan terjadi gempa di wilayah Hoenn.
Kemudian, gua-gua kecil di Pulau Gua Sisi, Situs Padang Pasir, dan Makam Kuno yang menyegel Regice, Regirock, serta Registeel akan terbuka.
Di ketiga tempat itu, bisa ditemui tiga pilar suci ciptaan Regigigas.
Mungkin karena Hu Yang terlalu serius memperhatikan, ia menarik perhatian sang pemandu pameran, wanita yang tadi bercerita.
Ia mendekat, berdiri di depan foto, dan memperkenalkan, “Ini adalah foto yang diambil seorang teman saya bertahun-tahun lalu, ketika berlayar di lautan.”
“Saat itu, kapal mereka tertimpa badai dasyat. Teman saya, berkat bantuan Pokémon, tanpa sengaja masuk ke situs peninggalan tersembunyi di bawah air.”
Hu Yang hanya bisa mengakui betapa beruntungnya orang itu.
“Kau pelatih yang sedang berkelana, ya?” tanya wanita itu ramah.
Hu Yang mengangguk.
“Aku iri pada kalian! Bisa berkeliling dunia...” Mata wanita itu berbinar penuh rasa iri.
Saat itu, terdengar panggilan dari rekannya di belakang. Sambil menjawab “sebentar”, ia berkata, “Semangat, ya! Aku harus kembali bertugas!”