Bab 19: Lembah Pembakar Langit, Menjadi Sasaran Perlakuan Buruk!
Lembah Pembakar Langit.
Inilah sebuah tempat istimewa yang terletak di kawah gunung berapi.
Ketika Qin Lingsiao tiba, ia melihat para pendekar murid luar berlalu-lalang tiada henti.
Di antara mereka, bahkan ada yang telah mencapai tingkat Pil Roh dan Gerbang Langit.
“Aneh...”
Qin Lingsiao dengan tenang mengikuti arus kerumunan menuju ke depan, keningnya sedikit berkerut. “Dikatakan sebagai tanah suci, tapi aku tak merasakan gelombang energi spiritual yang istimewa. Malah, energi di sini tak jauh berbeda dengan di kediamanku.”
“Mungkinkah...”
Mata Qin Lingsiao memancarkan sorot penuh pertimbangan.
Tak lama kemudian, ia bersama orang banyak tiba di sebuah alun-alun raksasa.
Alun-alun ini memang tak sebesar tempat bersandar kapal awan yang sebelumnya, namun tetap luar biasa megah, dengan diameter setidaknya lebih dari lima puluh ribu depa. Ribuan pendekar tersebar di sana, bahkan ruangannya masih terasa lapang.
Di tengah alun-alun, berdiri sebuah gerbang besar dari tembaga merah yang tampak tenang dan kokoh.
Qin Lingsiao mengamati dari kejauhan; samar-samar ia merasakan getaran ruang dari gerbang merah itu.
Mendadak ia paham. “Ternyata benar, tempat ini hanyalah pintu masuk Lembah Pembakar Langit. Lembah itu sendiri bukan berada di gunung ini. Gerbang itu pasti portal menuju ke sana.”
Qin Lingsiao melangkah menuju gerbang tembaga.
Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia sadari kerumunan di sekelilingnya telah berhenti.
“Ada apa ini?”
Qin Lingsiao mengerutkan dahi, mengikuti arah pandangan orang banyak. Di sana berdiri seorang gadis berbaju merah, setiap langkahnya membuat kerumunan segera menyingkir memberinya jalan.
“Siapa dia?”
“Kau bahkan tak tahu siapa dia?”
Seseorang di sebelah Qin Lingsiao memandangnya meremehkan. “Itu kan wanita tercantik di antara murid luar, juga salah satu pendekar terkuat peringkat lima besar, Kakak Senior Jiang Lingyan!”
“Kau baru saja masuk ke tanah suci ini, ya?”
“Bahkan tak mengenal Kakak Senior Jiang?”
“Kakak Senior Jiang?”
Qin Lingsiao sedikit mengangkat alisnya.
Gadis di kejauhan berjalan bagai bintang yang dikelilingi rembulan. Setiap langkahnya disorot ribuan mata, seolah sejak lahir memang layak menjadi pusat perhatian.
Gadis itu segera tiba di gerbang tembaga merah, masuk ke dalam portal dan lenyap seketika.
Sesaat sebelum benar-benar menghilang, ia tampak merasakan sesuatu. Sepasang matanya yang bening menatap lurus ke arah Qin Lingsiao.
Tatapan mereka saling bersua sesaat sebelum sosok gadis itu pun menghilang sepenuhnya.
“Gadis ini tidak sederhana.”
Qin Lingsiao mengangkat alis, matanya menampakkan sedikit rasa terkejut. “Menarik... Tanah Suci Matahari Menyala ini sungguh menyimpan banyak sosok hebat.”
Ia tak terlalu memikirkannya, lalu kembali melangkah ke arah gerbang tembaga.
“Berhenti!”
Baru saja Qin Lingsiao mendekat, seseorang memanggilnya.
Ia menoleh.
Seorang pria berbaju merah menatapnya dengan dahi berkerut, nada suaranya merendahkan, “Wajah baru, siapa kau? Kenapa aku tak pernah dengar Tanah Suci Matahari Menyala menerima murid tingkat Pembuluh Roh?”
“Ada urusan denganmu?”
Qin Lingsiao mengerutkan dahi, dengan tenang mengeluarkan sebuah tanda perintah. “Ini adalah Perintah Pembakar Langit. Aku ingin masuk ke Lembah Pembakar Langit untuk berlatih.”
“Perintah Pembakar Langit?”
Pria itu tertegun, lalu mencibir dingin. “Hmph, sekarang bahkan ada yang berani memalsukan Perintah Pembakar Langit? Tanda itu sangat berharga, mana mungkin seorang sampah dari tingkat Pembuluh Roh seperti kau memilikinya?”
“Kau mencari masalah?”
Qin Lingsiao menaikkan alis, menatapnya dengan makna tersirat. “Orang yang memberikanku Perintah Pembakar Langit itu bukan orang yang bisa kau ganggu. Asli atau palsunya bisa langsung diperiksa. Aku sedang buru-buru berlatih, tak tertarik membuang waktu denganmu.”
“Kurang ajar!”
Pria itu langsung murka. “Kau, si lemah tingkat Pembuluh Roh, berani bicara begitu padaku? Kalian, tangkap dia!”
“Baik!”
Beberapa orang di belakangnya langsung maju.
Qin Lingsiao mengamati satu per satu, keningnya semakin berkerut.
Ia yakin tak pernah berurusan dengan mereka sebelumnya.
Namun, jelas mereka sengaja menargetkan dirinya.
“Tunggu.”
Qin Lingsiao mengalihkan pandangan, dengan santai mengeluarkan sebuah jimat tulang dari cincin penyimpanan yang diberikan Zhao Fengyan padanya.
“Hmph, sekarang baru kau takut?”
“Terlambat!”
Pria paruh baya itu mendengus dingin, penuh hinaan. “Nak, Tanah Suci Matahari Menyala bukan tempat untukmu berbuat seenaknya. Bahkan kalau dewa pun datang hari ini, tak ada yang bisa menyelamatkanmu. Lain kali, ingat jangan cari gara-gara dengan orang yang tak bisa kau lawan!”
“Jadi, ada yang menyuruh kalian untuk melawanku?”
Qin Lingsiao langsung menangkap intinya, matanya memancarkan kilat dingin.
“Betul.” Pria paruh baya itu tidak menutupi, malah tertawa dingin. “Tapi bilang melawanmu, itu terlalu menyanjung dirimu. Hanya ada yang memerintahku untuk membunuh seekor semut tingkat Pembuluh Roh.”
Qin Lingsiao pun mengerti.
Barangkali ini berkaitan dengan Lin, kakak senior yang baru saja ia bunuh beberapa waktu lalu.
Namun demikian,
Ia malas berdebat, langsung menghancurkan jimat tulang di tangannya.
“Apa?!”
Orang-orang tertegun, tak paham maksud perbuatan Qin Lingsiao.
Namun seketika, sebuah tekanan dahsyat muncul, bagaikan matahari yang membakar seluruh tempat, membuat seluruh alun-alun bergetar hebat. Tekanan dahsyat itu membuat beberapa pendekar yang lemah langsung muntah darah dan jatuh pingsan!
“Zhao Fengyan di sini, siapa yang berani bertindak lancang?!”
Suara Zhao Fengyan, tetua luar, menggema dari langit.
Tak lama, tubuhnya yang gemuk bagaikan bola turun dari langit, mendarat tepat di depan Qin Lingsiao.
“T-Tetua Zhao?!”
Pria paruh baya yang tadi begitu sombong, mendadak pucat pasi begitu melihat Zhao Fengyan.
Namun, Zhao Fengyan bahkan tak meliriknya, melainkan menatap Qin Lingsiao. “Tuan Muda Qin memanggilku, ada masalah?”
Sebenarnya ia sendiri agak kesal, karena sejak tadi sudah memeriksa sekeliling dengan indra rohaninya, tak menemukan siapapun yang mencurigakan. Qin Lingsiao berada di dalam Tanah Suci, siapa yang berani terang-terangan menyerangnya?
“Beberapa orang ini disuruh seseorang, katanya ingin membunuhku.”
Qin Lingsiao langsung ke pokok persoalan, menunjuk pria paruh baya dan kawan-kawannya. “Mereka bilang, bahkan dewa pun tak bisa menolongku hari ini. Tetua Zhao, apakah hal ini bisa kau selesaikan?”
Mata Zhao Fengyan sedikit bergetar.
Cuma soal begini?
Hanya karena urusan sepele ini Qin Lingsiao sampai menghancurkan jimat panggilannya dan memaksanya datang?
Wajahnya berkedut, namun teringat Qin Lingsiao dibawa langsung oleh Nona Hati Membara, bahkan mendapat izin khusus dari Penguasa Suci untuk masuk ke Tanah Suci Matahari Menyala, ia pun tak berani marah.
Akhirnya, Zhao Fengyan hanya bisa berbalik menatap pria paruh baya dan kawan-kawannya.
“Benarkah?”
“T-Tetua, dengarkan penjelasanku...”
Pria paruh baya itu ketakutan setengah mati, mukanya pucat pasi, ingin membela diri.
Qin Lingsiao tersenyum tipis, merendahkan suara hingga hanya Tetua Zhao yang mendengar. “Tetua Zhao, kalau kau tak bisa menyelesaikan, aku bisa memanggil Kakak Senior Hati Membara untuk menyelesaikan.”
Mendengar itu, kepala Zhao Fengyan serasa mau pecah.
“Baik, baik...” Ia buru-buru menoleh, menampilkan senyum penuh kepatuhan pada Qin Lingsiao. “Tuan Muda Qin, mohon tunggu sebentar, akan segera saya urus.”
“Kalian semua...”