Bab 87. Sang Gembala (Bagian Tengah)
"Kalau begitu, cobalah!" Setelah berkata demikian, ekor sang Kadal kembali menusuk ke arah Mu Yang. Namun kali ini, Mu Yang tak mau mengalah. Ia mengambil Keadilan dari cincin ruangannya dan langsung menembakkannya ke arah Kadal.
Kadal awalnya mengira itu hanyalah senjata api biasa. Memang, bagi pemakan daging kelas A ke bawah, senjata api biasa cukup membahayakan. Namun bagi pemakan daging kelas S sepertinya, senjata api biasa tak ubahnya seperti mainan; tubuhnya sudah cukup kuat menahan hantaman peluru. Untuk bisa melukainya, setidaknya diperlukan senjata Quinke yang terbuat dari kagune, dan itu pun kekuatannya sangat bergantung pada kualitas bahan serta teknik penggunanya.
Namun, tembakan Mu Yang kali ini benar-benar di luar dugaan Kadal. Dadanya langsung ditembus peluru Keadilan, menciptakan luka besar. Kemampuan regenerasi sang pemakan daging pun terasa ditekan oleh kekuatan aneh, membuat lukanya tak kunjung sembuh.
Luka menganga di dada itu memang tak mematikan baginya, tetapi cukup membuat Kadal tak bisa bergerak sementara waktu. Meskipun begitu, Kadal belum menyerah. Saat Mu Yang lengah, ekornya melesat menembus dada Mu Yang.
"Manusia rendahan mana mungkin bisa menandingi pemakan daging?" Kadal berkata dengan angkuh ketika melihat dada Mu Yang tertusuk.
"Begitukah? Sayangnya, aku bukan manusia," balas Mu Yang sambil tersenyum, lalu menginjak luka di dada Kadal dengan keras.
"Bagaimana bisa!" Kadal terpana melihat Mu Yang masih hidup. Menurut perasanya, siapapun yang jantungnya tertusuk pasti akan tewas. Namun Mu Yang bukan saja tidak mati, bahkan masih bisa bergerak bebas.
"Tak perlu heran begitu, bukankah aku memang bukan manusia?" Mu Yang berkata dengan santai, matanya menyipit.
Dia kembali menginjak luka di dada Kadal. "Jadi, kau ikut atau tidak! Kalau menolak, aku terpaksa membunuhmu. Meski pemakan daging sekuatmu jarang, selalu saja akan ada yang bersedia bergabung. Kau bukan satu-satunya pilihan. Putuskan segera!"
Meski di dalam hatinya Kadal masih tidak rela, namun karena ancaman kematian, ia pun terpaksa setuju.
"Begitu dong, aku ini orang yang tahu memberi imbalan." Sambil berbicara, Mu Yang menarik kembali racun dari jarinya, lalu memotongnya dan memberikannya pada Kadal. Kadal sempat ragu, namun akhirnya menelannya juga. Luka yang ditembus Keadilan pun mulai pulih dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Kadal menatap Mu Yang dengan campuran takjub dan ketakutan, sebab jari yang tadi dipotong entah sejak kapan sudah tumbuh kembali.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku beritahu, meski dagingku mengandung banyak sel RC, jika dimakan sembarangan, dagingku tak ubahnya seperti racun mematikan." Mu Yang yang semula tersenyum, kini berbicara dengan dingin.
Kadal perlahan berdiri, namun matanya tetap terpaku pada Mu Yang.
"Apa? Tak percaya? Kalau begitu, cobalah!" Mu Yang kembali memotong jarinya, kali ini tanpa menghilangkan racunnya, dan memberikannya pada Kadal. Tanpa ragu, Kadal langsung menelan.
Akibatnya, racun langsung menggerogoti lambung Kadal, lalu mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Beberapa detik sebelum racunnya menunjukkan efek mematikan, Mu Yang mengendalikan dan menarik kembali racunnya.
"Sudah mengerti? Tanpa kendaliku, dagingku sama saja dengan racun," kata Mu Yang.
Walau Kadal mendapat tambahan sel RC setelah menelan jari itu, tubuhnya tetap dipenuhi keringat dingin. Sebab, tanpa kendali Mu Yang tadi, racun itu sudah cukup membunuhnya.
"Ingatlah, organisasi yang kudirikan bernama Sang Gembala," kata Mu Yang...
Jangan lupa beri suara dan simpan!