Bab Dua Puluh Empat. Kepala Kelinci Pedas, Daging Kelinci Pedas

Kehidupan Abadi Dimulai dari Dunia Douluo Si Hitam sedang memakan ikan asin. 1320kata 2026-03-05 01:10:12

Ketika Permaisuri Salju kembali, ia merasakan hawa dingin yang ia salurkan ke dalam tubuh Huo Yuhao telah dinetralisir, membuatnya sedikit lega. Setelah melihat Permaisuri Salju datang, Muyang bertanya, “Kakak, apakah kau sudah menemukan orang yang kau cari?”

Melihat raut wajah Muyang, Permaisuri Salju tersenyum sembari mengelus kepala Muyang dan berkata, “Sudah, kakak sudah menemukan orang yang kucari. Terima kasih, Xiao Mu.”

Kemudian Muyang menatap Du Weilen dengan mata berbinar dan berkata, “Paman, aku juga ingin bermain ini. Aku juga mau bermain dengan anjing kecil itu.”

Du Weilen merasakan tekanan besar; jika ia menolak, siapa tahu apa yang akan dilakukan Muyang. Namun, jika ia menyetujui, dengan kekuatan Muyang, bahkan jika semua jiwa binatang itu digabungkan, tak akan cukup untuk menandinginya.

Tepat saat itu, beberapa sosok tiba-tiba berlari keluar dari pintu samping yang berada di dekat arena pertarungan binatang. Di depan adalah seorang lelaki tua dengan wajah kemerahan, tubuh tinggi besar, dan rambut merah menyala yang sangat mencolok. Sambil berlari keluar, ia berteriak penuh amarah, “Apa yang terjadi? Siapa yang berbuat ini? Semua jiwa binatang di bawah sepuluh ribu tahun ketakutan hingga buang air besar dan kecil bersamaan, satu per satu jadi lemah tak berdaya. Du Weilen, apa ini ulahmu?”

Mata Du Weilen berbinar, buru-buru menjawab, “Kakek Gong, bukan saya.” Sambil berkata demikian, ia melompat turun dari panggung dan mendekati lelaki tua itu, menjelaskan dengan suara pelan.

Lelaki tua berambut merah itu bernama Gong Changlong, penanggung jawab utama arena pertarungan binatang besar, yang memiliki kedudukan istimewa di Akademi Shrek dan keahlian mendalam dalam riset jiwa binatang. Bahkan Du Weilen sendiri pun harus bersikap sangat hormat kepadanya.

“Apa? Ada kejadian seperti ini? Tidak mungkin. Tak mungkin sama sekali. Seorang bocah dua belas tahun, meski berbakat luar biasa dan didukung banyak ramuan langka, tetap mustahil untuk menyerap cincin jiwa sepuluh ribu tahun. Apa!? Kau bilang ada bocah kemarin yang menantang jiwa binatang di arena?! Bukankah itu sama saja mengirim mereka untuk mati!” Gong Changlong berkata dengan nada marah.

Du Weilen mengerutkan wajahnya dan berkata, “Kakek Gong, tak ada cara lain. Bagaimana kalau Anda keluarkan satu jiwa binatang yang lucu? Anak-anak biasanya suka yang lucu. Siapa tahu, itu bisa menenangkan Muyang.”

Mata Gong Changlong berbinar, “Ide itu bagus. Kebetulan aku baru saja menjinakkan seekor Kucing Iblis Malam, tapi untuk sekarang keluarkan saja Kelinci Tulang Lembut. Kau yang usul, kau yang bicara.”

Du Weilen hanya bisa menghela napas, tak ada pilihan lain—mana mungkin membantah Kakek Gong?

Du Weilen berkata pada Muyang, “Xiao Mu, nanti kau tinggal naik ke panggung, lalu kakek itu akan mengeluarkan kelinci kecil untukmu.” Ia menunjuk pada Gong Changlong.

Namun, Muyang tak peduli siapa yang mengeluarkan jiwa binatang. Yang ia dengar hanya lawannya adalah seekor kelinci.

“Kelapa kelinci pedas, bagian lainnya bisa dibuat jadi potongan kelinci pedas. Karena ini untuk dimakan, tak boleh memakai racun. Kebetulan juga bisa sekalian menguji pisau Tang (Hati Manusia), tanpa racun pula.” Begitulah yang dipikirkan Muyang saat ia naik ke panggung.

Du Weilen lalu berbalik ke arah dua kelas peserta, dan berkata dengan suara tegas, “Karena keadaan khusus, ujian kenaikan hari ini ditunda. Para wali kelas silakan membawa murid-murid kembali ke kelas untuk belajar.”

Zhou Yi buru-buru bertanya, “Direktur Du, bagaimana dengan ujian Huo Yuhao?”

Du Weilen mengernyit, “Anggap saja ia lulus. Huo Yuhao, ikut aku.” Sambil berkata demikian, ia kembali menuju Gong Changlong.

Namun Huo Yuhao tak langsung mengikuti, ia berjalan ke depan kelas dua dan menatap dingin ke arah Dai Huabin, “Ingat, tunggu aku di luar. Kalau aku tak salah, taruhan kita adalah, pihak mana yang mendapat nilai tertinggi hari ini adalah pemenangnya. Kau kalah. Aku tunggu kau berlutut dan mengaku salah!”

Tepat seperti yang diduga, Gong Changlong benar-benar mengeluarkan seekor Kelinci Tulang Lembut yang baru melewati sepuluh ribu tahun. Karena tekanan yang baru saja terjadi, kaki kelinci itu masih lemas, hanya mampu berdiri dengan susah payah.

Kelinci imut itu memang sulit dilawan oleh anak-anak seperti Muyang. Namun, saat pisau Tang keluar dari sarungnya dan Muyang mengayunkannya ke arah kelinci itu, cara dan gerakannya membuat kening Gong Changlong berkerut. Dengan teknik seperti itu, mustahil bagi Muyang mengenai kelinci itu, bahkan dalam kondisi lemah.

Namun, pada detik berikutnya, mata Gong Changlong membelalak lebar...