Bab Tiga Puluh: Ada Satu Hal yang Terlewat
Setelah mendengar penjelasan dari vampir di depannya, Muyang kira-kira memahami situasi saat ini; kelompok vampir ini memanggilnya untuk menumpas pemberontakan.
"Kenapa para undead memberontak? Apa tujuan pemberontakan mereka? Apa keuntungan yang didapatkan gereja sehingga bergabung dengan undead dalam pemberontakan ini? Kalian benar-benar tidak tahu apa-apa tentang hal ini?" Muyang berniat menanyakan lebih dalam, namun vampir itu hanya menjawab bahwa ia hanya tahu sejauh itu, selebihnya tidak tahu apa-apa.
Muyang menggelengkan kepala dengan kesal, lalu berkata, "Berikan aku sebuah kamar, biar aku bisa menata pikiranku. Oh ya, vampir yang ada di pojok itu, kau juga ikut kemari, ada beberapa hal yang ingin kutanyakan." Muyang mengalihkan pandangannya kepada vampir yang konon memiliki niat baik paling murni, yang bernama Tangdao (Hati Manusia).
Gadis itu jelas terkejut dengan permintaan tiba-tiba tersebut. Ia adalah putri bungsu raja vampir yang sekarang, sang putri termuda. Tentu saja, tiba-tiba dipanggil oleh Muyang untuk diinterogasi pasti tidak mudah.
Seorang tetua vampir berkata, "Tergantung apakah sang putri bersedia mengikuti Anda atau tidak." Setelah berkata demikian, ia terus-menerus memberi isyarat kepada sang putri.
Namun sang putri vampir yang baru saja terkejut itu justru penasaran apa bedanya manusia kuno dengan dirinya, sehingga ia tidak memperhatikan isyarat dari tetua vampir. Ia mengira ucapan tetua itu hanya untuk meminta persetujuannya, lalu buru-buru menjawab, "Tidak apa-apa kok."
Muyang berkata, "Kalau memang tidak keberatan, bawa aku ke ruang istirahat."
"Paman hanya ingin menanyakan beberapa hal saja, tidak akan ada masalah," sang putri vampir berkata kepada tetua vampir.
Tetua vampir itu juga tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia menyuruh seorang pelayan untuk mengantar Muyang dan sang putri ke ruang istirahat.
Sesampainya di ruang istirahat, di dindingnya terpajang beberapa lukisan minyak, sofa di tengah ruangan tampak sangat mewah, dan di atas meja ada beberapa botol porselen, semuanya tampak begitu mewah.
Muyang duduk di sofa dan memandang sang putri sambil berkata, "Perkenalkan dirimu dulu, supaya percakapan kita nanti bisa lebih santai."
"Aku Muyang, berasal dari ras manusia, tapi sepertinya sudah tidak murni lagi. Alasan aku datang ke sini, mungkin kau lebih tahu daripada aku," Muyang memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Aku Eileen, berasal dari ras vampir, putri bungsu kerajaan, tahun ini baru genap 300 tahun," Eileen memperkenalkan diri.
[Putri kerajaan, ya? Bagus, lebih mudah bertanya nanti. Tapi 300 tahun ini…] Muyang membatin.
"Eileen, apakah ada bagian yang salah dari penjelasan vampir tadi? Atau mungkin ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?" Muyang bertanya.
"Hay Muyang, kalau kau menjawab satu pertanyaanku, baru aku jawab pertanyaanmu. Kalau tidak, tidak adil!" Eileen berkata sambil cemberut.
"Baik," Muyang langsung setuju, toh ia memang tidak punya banyak informasi berharga.
Melihat Muyang setuju, Eileen pun mulai menjawab pertanyaan tadi, "Sebenarnya apa yang dikatakan Paman Ollie tadi hampir semuanya benar, hanya saja ada satu hal yang terlewat. Lima puluh tahun lalu, di Taeling ada sebuah kelompok bernama Peneliti Kuno, khusus meneliti peninggalan kuno. Tapi, sama seperti undead kali ini, mereka sepertinya menemukan sesuatu yang sangat luar biasa, lalu tiba-tiba memberontak melawan kerajaan. Namun kerajaan, para peneliti, gereja, dan perkumpulan petualang bekerja sama untuk menumpas mereka hingga kelompok itu pun musnah. Setelah kejadian itu, tugas-tugas Peneliti Kuno dialihkan ke para peneliti."
"Sudah, pertanyaanmu sudah kujawab. Sekarang giliran aku yang bertanya, seperti apa dunia manusia kuno itu?" Eileen bertanya.
Muyang sempat kebingungan dengan pertanyaan itu, tapi setelah berpikir sejenak, ia menjawab, "Dunia manusia sebenarnya tidak jauh beda dengan dunia kalian di sini, bahkan bisa dibilang persis sama..."