Bab 25: Ada yang Tidak Beres
Halaman (1/3)
Su Ning malas memedulikan Shen Zhu yang kabur terbirit-birit.
“Nona Su, mari saya antar ke kamar,” kata Bibi Zhang sambil berjalan keluar dengan santai.
Su Ning mengangguk.
Bibi Zhang mendorong pintu kamar hingga terbuka. “Nona Su, ini kamar yang khusus disiapkan oleh Nyonya untuk Anda. Kamar ini sama seperti milik Nona Kedua. Beristirahatlah dengan baik.”
Bibi Zhang mengira Su Ning, si kampungan, pasti terpukau sampai tidak mampu bereaksi. Ia pun berbalik hendak pergi.
“Tunggu. Ganti seluruh perabot kamar ini dengan warna kayu tua. Pecahkan semua cerminnya, dan buang semua boneka ini.” Su Ning mengernyit, jelas sangat tidak puas dengan tata letak kamar itu.
Bibi Zhang tertegun. “Nona Su, semua ini dipersiapkan sendiri oleh Nyonya. Ini tanda kasih sayang beliau. Anda…”
“Apakah Anda hendak menyampaikan keberatan?” tanya Su Ning datar, tanpa perubahan emosi sedikit pun.
Wajah Bibi Zhang seketika membiru karena kesal setelah dibalas seperti itu. Ia hanya bisa berkata keras kepala, “Saya melakukan semua ini demi kebaikan Nona Su!”
Su Ning malas meladeni Bibi Zhang. Ia masuk ke kamar dan mulai mengamati sekeliling.
Bibi Zhang mengerucutkan bibir dengan jijik, lalu terpaksa turun untuk mencari orang yang bisa mengganti semua perabotan.
Shen Zhu duduk di sofa dengan jantung berdebar tak beraturan. Ketika melihat Bibi Zhang turun dari tangga, ia segera bertanya, “Dia tidak mengajukan permintaan yang keterlaluan, kan?”
“Nona Su berkata ingin mengganti seluruh isi kamarnya. Selain itu, cara bicaranya juga aneh. Jangan-jangan…” Bibi Zhang tidak menyelesaikan ucapannya, tetapi maksud tersiratnya sangat jelas.
“Kau pergi saja mengurus pekerjaanmu. Setelah Ayah dan Ibu pulang, aku akan membicarakannya dengan mereka.” Shen Zhu tahu Su Ning hanya berpura-pura bijaksana. Siapa tahu, di balik layar, betapa buruk tabiatnya.
Gadis itu benar-benar terlalu aneh.
“Si kampungan itu cuma berpura-pura menjadi paranormal. Kak, jangan takut. Biar aku naik dan memarahinya.” Shen Haoran sedang bermain gim di tabletnya, nadanya dipenuhi penghinaan.
“A Ran, jangan bertindak sembarangan. Bagaimanapun juga, dia kakakmu,” sela Shen Zhu.
Alis Shen Haoran langsung berkerut. “Siapa bilang dia kakakku? Aku tidak mengakuinya.”
Ia bersekolah di sekolah elit. Jika orang-orang tahu bahwa ia memiliki kakak perempuan kampungan dari desa, entah sebesar apa rasa malu yang harus ditanggungnya.
…
Su Ning begadang semalaman. Ia juga sudah memahami bahwa dunia ini tidak jauh berbeda dari dunia asalnya.
Kakek Shen adalah seorang pengusaha yang mendadak kaya. Ia memiliki dua putra dan seorang putri, dengan struktur keluarga yang tidak terlalu rumit.
Saat sedang tertidur lelap, ia sama sekali tidak menyangka guru privat akan langsung membuka pintu dan masuk.
“Nona Su, sekarang sudah pukul sembilan dan Anda masih tidur. Seumur hidup, saya belum pernah melihat orang semalas Anda. Saya meminta Anda untuk segera…”
Guru privat itu belum selesai bicara ketika melihat sosok manusia kertas kecil merayap naik ke tubuhnya.
Sosok manusia kertas merah itu bahkan dengan jahil mengedipkan mata dan menyeringai kepadanya.
Halaman (1/3)
Buku yang dipegang guru privat itu jatuh ke lantai.
“Ada hantu!”
Jeritan histerisnya menggema ke seluruh rumah. Ia bahkan berlari begitu cepat sampai sepatu hak tingginya terlepas, sementara Shen Zhu ikut tertabrak hingga jatuh ke lantai.
Shen Zhu hanya bisa melihat guru privat itu melarikan diri dari rumah secepat kilat tanpa berani menoleh sedikit pun.
Su Ning terbangun karena keributan tersebut. Dengan kesal, ia menatap ke arah pintu.
Tangan Shen Zhu yang hendak mengetuk pintu kembali ditarik. Tatapan Su Ning terasa begitu mengerikan, seolah-olah berasal dari roh jahat yang baru merangkak keluar dari neraka.
“Ayah dirawat di rumah sakit sejak kemarin. Kita harus pergi ke rumah sakit,” kata Shen Zhu dengan nada yang jauh lebih lemah dari biasanya.
“Aku tahu. Ada urusan lain?” Su Ning menatap Shen Zhu yang masih belum pergi.
Shen Zhu menggeleng cepat lalu segera pergi, sebab ia sempat melihat susunan benda di atas meja.
Su Ning benar-benar bukan orang biasa. Ia terlalu menyeramkan.
Di rumah sakit, Shen Yun’an menatap Su Ning dengan wajah muram. “Aku dengar kau menakut-nakuti guru privat sampai dia kabur?”
“Seharusnya kecelakaan itu terjadi pada pukul tujuh lewat tujuh menit tadi malam. Selain itu, tadi malam Anda juga mengalami kerugian uang, benar?” Su Ning mengalihkan pembicaraan.
Kali ini Shen Yun’an tidak mungkin lagi menganggapnya sepele. “Dari mana kau mengetahui semua itu?”
“Sebaiknya Anda mengatakan yang sebenarnya. Anda tidak akan bisa membohongiku.”
“Ayah, dia memang sakit jiwa. Setiap hari di rumah, dia berpura-pura menjadi paranormal dan bahkan menakut-nakuti guru privat sampai kabur.” Shen Zhu memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadu.
Shen Yun’an hanya meliriknya dengan dingin. “Keluar kau!”
“Ayah, kenapa Ayah tidak memercayaiku?” Shen Zhu mulai panik.
Namun, Shen Yun’an sama sekali tidak ingin menggubrisnya.
“Jika kau bisa membantuku menyelesaikan masalah ini, mintalah apa pun yang kau inginkan.” Ekspresi Shen Yun’an tampak sungguh-sungguh.
Ia sendiri tidak tahu mengapa begitu memercayai Su Ning.
“Ayah…” Shen Zhu belum sempat menyelesaikan ucapannya ketika telapak tangan Shen Yun’an mendarat di wajahnya.
“Aku katakan sekali lagi, keluar!”
Suasana hati Shen Yun’an sedang sangat buruk. Ia tidak ingin mendengar tangisan dan rengekan Shen Zhu.
Dengan kepala tertunduk lesu, Shen Zhu berjalan keluar. Sebelum pergi, ia sempat melotot ke arah Su Ning.
Ternyata si kampungan ini memang memiliki kemampuan tertentu. Namun, jangan harap ia bisa merebut semua miliknya. Mustahil!
“Malapetaka keluarga Shen tidak bisa diselesaikan dari akarnya, kecuali keluarga ini segera berpisah,” kata Su Ning dengan nada dingin.
Jiang Manyu juga dapat merasakan bahwa gadis itu sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap keluarga Shen.
Halaman (2/3)
Ia menghela napas panjang, lalu tidak tinggal lebih lama di kamar itu.
Shen Yun’an baru hendak berbicara ketika Kakek Shen datang dengan langkah penuh amarah.
“Menurutku, kau semakin lama semakin bodoh. Urusan perusahaan berantakan, dan kau malah membawa pulang…” Kakek Shen masuk sambil terus mengomel.
Namun, ketika melihat Su Ning, ia langsung menghentikan ucapannya.
“Salam, Kakek,” sapa Su Ning dengan sikap anggun dan sopan.
Dalam hati, Kakek Shen berpikir bahwa Shen Yun’an rupanya benar-benar telah berusaha mendidik gadis ini. “Kau keluar dulu.”
Saat ini, Kakek Shen hanya ingin menyelesaikan masalah perusahaan.
“Ayah, dia tidak boleh keluar. Dia punya cara untuk membantu kita.” Shen Yun’an seolah-olah telah mencengkeram jerami terakhir untuk menyelamatkan hidupnya.
“Menurutku, kau benar-benar semakin lama semakin bodoh.” Kakek Shen tidak pernah menyangka Shen Yun’an akan mengucapkan sesuatu yang begitu konyol.
Rasa jijik di matanya tidak disembunyikan sedikit pun. Bagaimanapun juga, bisnis perusahaan baru saja gagal, sementara keluarga Bai juga memilih membatalkan pertunangan.
Keluarga Bai awalnya ingin menikahkan putra mereka dengan seseorang untuk membawa keberuntungan dan menangkal nasib buruk. Namun, melihat keluarga Shen kini diliputi kesialan, mereka pun tidak berani menerima pernikahan itu.
Su Ning mulai menghitung dengan jari-jarinya. Tampaknya malapetaka keluarga Shen sudah berada tepat di depan mata.
Ia harus segera pergi. Ia sama sekali tidak boleh tinggal diam dan membiarkan semuanya terjadi.
“Aku bisa membantu kalian menyelesaikan masalah ini. Namun, syaratnya, tiga hari lagi aku harus menikah dengan keluarga Bai.”
Su Ning sedang terburu-buru. Ia ingin memutus seluruh ikatan sebab-akibat dengan keluarga Shen.
Kakek Shen mengangkat alis dengan ekspresi tidak percaya. “Hal yang paling kubenci seumur hidup adalah orang yang gemar membual.”
“Sepertinya selama tinggal di desa, kau tidak belajar banyak hal. Kalau punya waktu, sebaiknya kau belajar lebih banyak dari Shen Zhu.”
Kakek Shen berusaha keras menahan amarah. Bagaimanapun, Su Ning baru saja kembali dan masih merupakan anggota keluarga yang lebih muda. Tidak perlu bersikap terlalu keras kepadanya.
Ia menganggap Su Ning hanya belum dewasa dan sedang bertingkah tanpa alasan.
“Ayah, bagaimana kalau kita memercayainya? Aku yang akan menjadi penjaminnya.” Shen Yun’an tahu, jika masalah hari ini tidak terselesaikan, kendalinya atas perusahaan akan beralih kepada keluarga adiknya.
Karena itu, ia hanya bisa menggantungkan harapan kepada Su Ning.
Walaupun tidak tahu mengapa ia begitu memercayainya, Shen Yun’an merasa Su Ning pasti mampu melakukannya.
Halaman (3/3)