Bab 1: Transmigrasi Menjadi Ibu Kandung yang Kejam
"Tolong!"
Nan Lin membuka matanya dan mendapati dirinya tergantung tinggi di dahan pohon.
Di bawah pohon, seorang wanita yang mengenakan pakaian dari kulit binatang mendongak ke arahnya.
Nan Lin akhirnya berhasil diselamatkan. Dia tidak mengerti bagaimana bisa dirinya yang begadang semalaman membaca novel, begitu terbangun langsung dihadapkan pada situasi yang begitu mendebarkan.
"Nan Lin, seingatku kamu takut ketinggian sejak kecil, dan suku juga tidak memberimu tugas memetik buah. Bagaimana bisa kamu sampai berada di atas pohon?"
Wanita di hadapannya itu mengenakan pakaian kulit binatang, tangannya memegang tombak yang terbuat dari tulang ikan, sementara matanya memancarkan kepolosan dan kebingungan.
"Aku tidak tahu, tunggu aku menenangkan diri dulu," jawab Nan Lin yang hingga saat ini masih belum memahami situasi yang sedang dihadapinya.
Bagaimana bisa dia terlempar ke dunia primitif seperti ini? Orang lain yang bertransmigrasi ke dalam novel biasanya menikmati hidup yang mewah dan serba berkecukupan.
Tepat pada saat itu, suara dingin dari sistem menggema di dalam benaknya.
[Inang: Nan Lin. Kemarin Anda begadang membaca novel dewasa bergenre harem lalu mati mendadak. Dunia tempat Anda berada sekarang adalah dunia binatang, dan Anda memiliki tujuh putra yang luar biasa tampan.]
[Anda adalah ibu mereka. Sedangkan ayah mereka telah tewas terjatuh dari tebing saat sedang berburu.]
[Namun, mereka semua adalah tokoh antagonis kejam berwatak buruk. Sepuluh tahun dari sekarang, putra sulung Anda ingin menghancurkan dunia demi cinta. Putra kedua membantai orang lain demi berkultivasi menjadi dewa, bahkan menyuruh korbannya menjadi saudara di dalam Panji Pemurni Jiwa. Putra ketiga membentuk kelompok demi melakukan revolusi teknologi, tetapi yang dia ciptakan malah bom atom yang meledakkan wilayah luas...]
[Baiklah, saya tidak akan menjelaskan satu per satu lagi. Tugas Anda adalah menyelamatkan para antagonis ini dan membimbing mereka ke jalan yang benar.]
[Namun untuk saat ini, mereka sangat membenci Anda. Hanya saja, karena Anda adalah ibu mereka, mereka tidak tega untuk menyakiti Anda. Jadi, Anda masih memiliki waktu sepuluh tahun.]
Ingatan dalam jumlah besar segera membanjiri benak Nan Lin. Dia akhirnya paham, dia telah bertransmigrasi ke dalam novel bertema kiamat.
Ketujuh putranya adalah manusia binatang, tetapi mereka semua juga merupakan transmigran.
Demi mencegah kehancuran dunia, sistem menangkap para antagonis hebat dari tujuh dunia berbeda saat mereka masih kecil, lalu membuang mereka ke dunia binatang ini.
Namun lambat laun, ingatan mereka akan bangkit kembali. Mereka akan mengembangkan teknologi dari zaman mereka masing-masing atau bahkan mulai berkultivasi.
"Nan Lin, kamu kenapa?" Er Jia mengulurkan tangan dan menggoyang-goyangkan bahunya.
"Aku tidak apa-apa, kamu kembali saja dulu ke suku," jawab Nan Lin. Baginya, hal terpenting saat ini adalah bernegosiasi dengan sistem.
Er Jia mengangguk. "Benar juga, tangkapan ikanku hari ini belum selesai. Aku pergi dulu ya, jangan memanjat pohon lagi."
Nan Lin memijat pelipisnya yang terasa pening. "Aku ingin pulang, kalau tidak aku akan menabrakkan kepalaku ke pohon ini sampai mati."
Dia sama sekali tidak sudi menerima tugas omong kosong ini.
[Anda sudah mati, jadi tidak bisa kembali lagi. Saat ini Anda memiliki dua pilihan: mati, atau menyelesaikan tugas ini lalu kembali ke dunia asal Anda dengan membawa uang tunai senilai sepuluh miliar.]
Mendengar perkataan sistem, Nan Lin secara tidak sadar mengusap dagunya. Penawaran itu terdengar tidak terlalu buruk.
"Kamu yakin tidak sedang membohongiku?"
[Sebagai Sistem 1103 yang agung di alam semesta yang luas ini, bagaimana mungkin saya menipu Anda?]
"Cukup, aku tidak mau mendengar bualanmu." Baru saja Nan Lin hendak duduk untuk menenangkan diri, suara bising tiba-tiba terdengar di dekatnya.
"Aku bukan anak kucing sialan! Aku seharusnya menjadi leluhur pendiri sekte iblis! Aku butuh pengorbanan darah, aku harus bangkit, aku harus berkultivasi!"
"Aku sama sekali tidak gila, ini juga bukan delusi! Kenapa kalian semua tidak ada yang memercayaiku?!"
Terdengar teriakan histeris dari seorang bocah laki-laki.
Nan Lin melangkah mendekati arah suara tersebut. Awalnya dia mengira keberadaannya tidak akan disadari.
Namun di luar dugaan, Nan Xuan melangkah lebar menghampirinya, menyingkap semak-semak, dan menatap tajam ke arah Nan Lin yang sedang berusaha tidak menimbulkan suara.
"Hai, Nan Xuan, putra keduaku tersayang. Anu... aku ini ibumu."
Nan Lin melambaikan tangannya dengan canggung. Bukankah sistem sialan itu bilang ingatan mereka belum pulih?
Dia benar-benar takut Nan Xuan akan menjadikannya tumbal persembahan terlebih dahulu.
"Kemarin adik ketiga yang menjebakmu hingga naik ke pohon, itu tidak ada hubungannya denganku."
Nan Xuan mengepalkan tinjunya erat-erat lalu melepaskannya kembali. Entah mengapa, sejahat apa pun dirinya, dia selalu menyisakan sedikit kelembutan untuk ibu di hadapannya ini.
"Apa Ibu ingin memukulku?"
"Kalau begitu pukul saja. Tapi jika Ibu berani memelorotkan celanaku untuk memukulku, aku akan bertindak jauh lebih kejam daripada adik ketiga."
Ekspresi di wajah Nan Xuan sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia sedang bercanda.
Menurutnya, cara yang digunakan adik ketiga sangat kekanak-kanakan, hanya menipu orang agar naik ke atas pohon untuk menakut-nakutinya.
Nan Lin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak berniat begitu! Aku hanya merasa kita berdua perlu membangun kedekatan antara ibu dan anak!"
Nan Xuan menatap Nan Lin seolah sedang melihat orang bodoh, lalu bergumam pelan, "Gila!"
Dia berbalik dan bersiap untuk pergi. Ibunya pasti sedang merencanakan cara baru untuk menyiksanya.
Nan Lin membuntutinya dengan hati-hati. "Kamu mau pergi ke mana?"
Nan Lin merasa sangat kesal dalam hati. Mengya bocah ini begitu sulit dibujuk?
"Jangan ikut campur urusanku." Nan Xuan menghentikan langkahnya sambil mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti mengapa ibunya bersikap seaneh ini hari ini.
Biasanya, setiap kali melihatnya, wanita itu pasti akan memukul atau memaki dirinya. Belum pernah sekalipun dia bersikap selembut hari ini.
"Nan Xuan, aku ini ibumu. Kamu masih kecil, jadi kurasa aku harus menemanimu."
"Apa ada yang ingin kamu mainkan? Bagaimana kalau Ibu mengajakmu menangkap ikan? Atau memetik buah liar di atas pohon untuk dimakan?"
Sementara Nan Lin terus mengoceh, Nan Xuan yang gengsi sudah memalingkan wajah dan berjalan pergi.
Nan Lin bergegas mengejarnya. "Nan Xuan, tunggu ibumu! Aku tidak tahu jalan. Kakimu yang pendek itu ternyata bisa melangkah secepat ini!"
Wajah Nan Xuan seketika menggelap saat berbalik. "Sebenarnya apa maumu dengan terus mengikutiku? Aku juga tidak tahu Kakak Sulung ada di mana, jadi aku tidak bisa memenuhi keinginanmu."
"Jangan mengikutiku lagi kalau tidak ada urusan penting. Aku harus mencari makanan!"
Tatapan mata Nan Xuan memperlihatkan rasa muak yang sama sekali tidak ditutup-tutupi.
"Nan Xuan, Ibu tahu perbuatan Ibu yang dulu itu salah."
"Sekarang Ibu sudah menyesal. Berikan Ibu kesempatan, ya? Jangan bersikap sedingin ini."
Nan Lin mengulurkan tangannya dan dengan hati-hati mencolek bahu kecil Nan Xuan.
Nan Xuan menghela napas panjang, lalu memalingkan wajahnya berpura-pura tidak peduli sambil mengerucutkan bibir kecilnya. "Terserah Ibu mau merencanakan apa lagi. Intinya, aku benar-benar tidak tahu Kakak Sulung ada di mana."
"Aku hanya ingin mencari makanan. Kalau Ibu mau ikut, ya ikut saja!"
Namun tepat pada saat itu, seekor ular sanca raksasa yang bersembunyi di kegelapan mendadak melesat cepat ke arah Nan Xuan.
Nan Xuan tidak sempat menghindar. Secara refleks, dia mengulurkan tangannya untuk mendorong Nan Lin menjauh.
Namun di luar dugaan, Nan Lin justru memeluknya erat-erat. "Nak, jangan takut. Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Nan Xuan berontak sekuat tenaga. Padahal tadi dia masih sempat melarikan diri, tapi sekarang mereka berdua malah terkunci di tempat. "Cepat lari!" teriaknya.
Nan Lin menggunakan tubuhnya untuk melindungi Nan Xuan erat-erat. Keduanya mematung di tempat, menunggu ular sanca itu menerkam.
Dia masih tenggelam dalam drama kepahlawanannya sendiri, hingga sama sekali tidak mendengar teriakan putranya.
Ular sanca raksasa itu menjulurkan lidahnya yang bercabang, lalu membuka rahangnya lebar-lebar, mengincar langsung ke arah kepala Nan Lin.