Bab 15 Kau Bodoh
Halaman 1 dari 3
Ketiganya serempak datang dan duduk di tepi air terjun kecil.
Tiba-tiba, suara gemerincing kembali terdengar di benak Nalin.
【Di dasar sungai terdapat tulang zirah naga banjir purba. Jika digali, tulang itu dapat ditukar dengan kendaraan roda tiga biasa yang memiliki aliran listrik permanen.】
【Ingat, semuanya harus digali. Semua tulang itu ada di dalam sana, hanya saja tersebar.】
Suara sistem tanpa sadar mengingatkannya.
Nalin mengatupkan bibir rapat-rapat agar tidak memaki.
Menggali tulang saja masih dituntut harus lengkap. Sungguh aneh.
Tiba-tiba Nalin teringat sesuatu dan langsung berdebat dengan sistem dalam benaknya.
“Coba lihat lagi, apa yang ada di dasar kolam itu?”
【Tidak ada lagi yang kuinginkan.】
“Tidak, kau pasti menginginkan sesuatu. Lihat lagi.”
Nalin tidak berniat membiarkan sistem begitu saja dan mulai beradu mulut dengannya.
Setelah terdiam cukup lama, sistem akhirnya menjawab dengan terbata-bata.
【Kalaupun kuberikan obat, kau juga tidak akan dapat menggunakannya. Luka Nansi cepat atau lambat akan meradang karena udara dingin dan lembap. Obat biasa tidak akan berpengaruh.】
【Atau begini saja, kau tidak usah mengambil kendaraan roda tiga itu. Aku akan memakai energi untuk memulihkan wajahnya secara langsung, sekaligus memeriksa seluruh luka di tubuhnya.】
Sistem juga tidak pernah suka dimanfaatkan orang lain.
“Bukan berarti tidak bisa. Kalau begitu, aku tidak akan mencari apa-apa lagi. Kita bertiga tinggal beristirahat di sini. Toh, hidup bertiga bersama juga cukup menyenangkan.”
Nalin langsung menyerah dan bermalas-malasan, ingin melihat siapa yang lebih dulu merasa gelisah.
【Kau benar-benar tidak tahu malu.】
Sistem memakinya, tetapi tetap enggan mengalah.
“Bagaimana kalau begini? Jika nanti masih ada benda lain, kau boleh membebaskanku dari satu kali pertukaran?”
Setelah Nalin mengucapkan itu, sistem baru bersedia menyetujuinya dengan enggan.
Kalau tidak, sistem merasa dirinya benar-benar rugi besar.
Mana ada orang bekerja tetapi masih harus mengeluarkan uang sendiri untuk nombok?
【Kalau begitu, cepatlah. Jika lukanya terlalu lama dibiarkan, pemulihannya nanti akan semakin sulit.】
Sistem pun menghilang, sementara Nalin merasa senang.
Di sisi lain, Cikui dengan hati-hati menggosok-gosokkan kayu, berusaha menyalakan api. Namun setelah cukup lama mencoba tanpa hasil, ia akhirnya membuang kayu itu dan tidak mau mengurusnya lagi.
Nansi tidak punya pilihan selain mengambil alih. Sewaktu kecil, ia pernah belajar menyalakan api.
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Karena pola pengasuhan Nalin yang serba membiarkan, mereka berdua sudah belajar hidup mandiri sejak kecil.
“Wah, kenapa kau bisa menyalakan api secepat itu? Ajari aku caranya!” Cikui langsung tertarik.
Namun, sebelum mereka sempat saling berbagi, Nalin sudah melompat-lompat menghampiri mereka. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang nyaris tak terbendung.
“Ayo, Ibu akan memungut daun yang menempel di wajahmu.”
Nalin langsung mengangkat Nansi dan mendudukkannya di atas pahanya.
Meski merasa canggung, Nansi akhirnya menyerah dan tidak lagi bergerak ataupun memberontak.
“Jangan cuma berdiri di sana. Cepat turun dan ambil tulang-tulang itu! Berapa pun jumlahnya, angkat semuanya. Kalau tidak berhasil membawa tulangnya, jangan naik lagi!”
Nalin langsung memerintah.
“Apakah ada ikan kaleng lagi? Tunggu aku!”
Cikui bahkan tidak memberi siapa pun kesempatan untuk berbicara. Ia langsung menceburkan diri ke dalam air.
Pada akhirnya, ia bersusah payah membawa beberapa potong tulang ke tepian.
Cikui terengah-engah sambil bersandar pada batang pohon.
“Masih ada satu yang besar tertindih lumpur. Sulit dibersihkan dan cukup menguras tenaga.”
“Tapi jangan terburu-buru. Setelah beristirahat, aku akan turun lagi untuk mengambilnya.”
Bagi Cikui, makanan lezat layak diperjuangkan dengan segala cara.
Nalin mengangguk. Kali ini, Cikui membuat keributan yang cukup besar saat turun ke air. Permukaan kolam bahkan sampai memercik hebat.
Lumpur juga berhamburan ke segala arah. Nalin buru-buru meminta sistem mengumpulkan semua tulang yang tersisa di tepi sungai.
Nalin kembali menggendong Nansi dan berlari sekuat tenaga.
Namun, mereka tetap tidak luput dari hantaman lumpur hingga tubuh keduanya menjadi kotor.
Tubuh Nalin hanya tertutup seadanya oleh dedaunan. Kini lumpur justru menyelimuti tubuhnya seperti pakaian.
Nansi tertawa. Tubuhnya hanya ditutupi sehelai daun kecil untuk menutupi bagian pribadinya, sementara kedua lengannya terlihat sepenuhnya.
Tak satu pun dari mereka memiliki pakaian yang utuh.
Cikui mengerahkan seluruh tenaganya dan akhirnya berhasil membawa tulang itu ke daratan.
Ia sendiri telah berubah menjadi manusia lumpur. Saat melihat dua manusia lumpur bermata besar yang berdiri di tepi sungai, ia hampir saja tertawa terbahak-bahak.
Kini, selain matanya, hampir tidak ada kulit Nalin yang terlihat.
“Kau benar-benar hebat.”
“Di sini lumpurnya ada di mana-mana. Kita pindah tempat dan membersihkan diri.”
Cikui memiliki kedekatan alami dengan sungai, sehingga ia dapat menemukan tempat lain dengan mudah.
Nalin tidak menolak. Ia terlebih dahulu menyimpan tulang-tulang itu, lalu mereka pergi menuju sungai.
Nalin dan Cikui selesai membersihkan diri.
Sementara itu, Nansi berdiri dengan hati-hati di tepi sungai dan tidak berani turun ke air.
“Jika kulitku terkena air, rasanya sakit sekali.”
Nalin tahu bahwa luka-luka Nansi yang terbuka pasti terasa sangat perih ketika terkena air.
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Ia sendiri pernah mengalami hal serupa.
Nalin segera menghubungi sistem. Untungnya, sistem menganggap lumpur itu masih dapat berfungsi sebagai penutup.
“Jangan khawatir. Kalau perlu, lumpurnya tidak usah dicuci.”
Nalin menghela napas lega. Setelah sepuluh menit berlalu, sistem selesai bekerja.
Nansi merasakan perubahan pada tubuhnya. Rasa perih yang terus menyiksa itu sudah tidak ada lagi.
“Ibu, sepertinya aku sudah tidak sakit. Aku bisa turun ke air!”
“Kau memanggilku apa? Coba ulangi! Tadi Ibu tidak mendengarnya dengan jelas!”
Nalin seketika bersemangat. Namun, Nansi tidak mengulangi panggilan itu.
Ia hanya menceburkan diri ke dalam air dan mulai membersihkan lumpur yang menempel di tubuhnya.
Nalin mengerucutkan bibir, agak kecewa.
“Ibu, di sungai ada ikan.”
Nansi muncul dari dalam air dengan wajah ceria. Tak ada satu pun luka yang tersisa di tubuhnya.
Cikui benar-benar terkejut dan membelalakkan mata. Ia kembali menceburkan diri ke air. Jangan-jangan sungai itu memiliki khasiat menyembuhkan luka?
Ia mencoba cukup lama, tetapi tidak menemukan hasil apa pun. Tanpa sengaja, jarinya sendiri malah terluka sedikit saat melakukan percobaan.
Cikui menggelengkan kepala dengan bingung.
Sudahlah, tidak perlu dipikirkan.
Ia kembali menatap Nalin dengan penuh harap.
Tatapan Cikui membuat seluruh tubuh Nalin merinding karena canggung. Ia hendak menjauh, tetapi Cikui sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
Cikui hanya berkedip sederhana tanpa mengatakan apa pun, berharap Nalin dapat memahami maksudnya.
“Tidak ada ikan kaleng. Tapi ada benda baru yang dapat membuat kita tidak perlu berjalan lagi. Untuk makanan, nanti juga akan ada. Jangan terburu-buru.”
Nalin mengira kata-kata penghiburannya berhasil.
Sebab, Cikui tidak lagi mengatakan apa-apa.
Baru saja Nalin hendak menghela napas lega, Cikui sudah kembali menceburkan diri ke dalam air.
Sesaat kemudian, Nalin yang masih duduk di tepi sungai dan belum sempat bereaksi langsung dihantam cipratan air besar yang ditimbulkan oleh kibasan ekor ikan.
Seluruh tubuh Nalin menjadi basah kuyup. Rambutnya berantakan dan tak tersisa sedikit pun keanggunan pada dirinya.
Cikui berjalan naik ke daratan dengan santai, seolah-olah keusilan tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Ia memang agak kesal. Setelah berusaha begitu lama, ternyata tidak mendapatkan satu pun ikan kaleng.
Cikui bahkan mulai curiga bahwa Nalin sengaja menahan jatah ikan kaleng miliknya.