Bab 22 Mencari Cara untuk Menghasilkan Uang
Halaman (1/3)
Di luar kamar perawatan, Kloditis berhasil menenangkan Ci Jue, lalu mulai membicarakan ke mana duyung itu akan dibawa.
Ci Jue tampak agak bingung. “Duyung berekor putih termasuk jenis yang cukup langka di antara para duyung. Bagaimana mungkin dia hidup sendirian di Hutan Belantara Utara?”
Anak duyung tanpa perlindungan keluarga akan sangat sulit tumbuh dewasa seorang diri. Bahkan jika berhasil bertahan hingga dewasa, kemungkinan untuk mati sebelum waktunya tetap sangat besar.
“Mungkin karena dia duyung cacat,” kata Kloditis.
Ci Jue masih merasa ada yang janggal. “Kemungkinan itu memang tidak bisa dikesampingkan. Namun, para duyung sangat sulit memiliki keturunan. Bahkan duyung cacat pun tidak mungkin dibiarkan mengembara sendirian di luar.”
Semuanya tampak terlalu kebetulan. Terlalu kebetulan hingga mereka bisa bertemu dengannya.
Mengingat hal itu berkaitan dengan identitas Kloditis, Ci Jue menjadi sebelas kali lebih waspada.
“Mungkin dia punya alasan tersendiri. Katanya, dia baru saja dewasa.” Kloditis tidak terlalu memikirkannya. Ia menceritakan kepada Ci Jue percakapannya dengan Bai tadi.
“Baru dewasa?”
Pantas saja dia ditangkap dan diperlakukan sewenang-wenang oleh sekumpulan manusia binatang itu.
Kloditis tak kuasa menahan kagum. “Benar-benar duyung. Rupanya memang sangat cantik.”
Pikiran Ci Jue beralih. Ia bertanya, “Tuanku menyukainya?”
Kloditis nyaris tertawa karena kesal. “Kenapa setiap kali bertemu jantan seperti ini, kau selalu menanyakan hal yang sama?”
“Kalau aku bilang aku menyukainya, apa yang akan kaulakukan?”
“Kalau begitu, aku akan membantu Tuanku mengaturnya.” Tatapan Ci Jue menjadi dalam saat memandang Kloditis.
Itulah yang harus dilakukannya sebagai suami binatang pertama.
Dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki di antarbintang, ada sebuah aturan tak tertulis.
Suami binatang pertama bukanlah suami binatang pertama yang dimiliki seorang perempuan, melainkan sosok di antara banyak suami binatang yang tidak pencemburu, tidak penuh siasat, berjiwa lapang, dan hanya setia kepada tuan perempuannya. Ia akan mengatur suami-suami binatang lain untuk sang tuan, mengelola mereka, menjaga kestabilan hubungan di antara mereka, serta diangkat sendiri oleh sang tuan sebagai suami binatang pertama.
Sebagai suami binatang pertama, ia memiliki satu hak istimewa: sang tuan tidak dapat memutuskan ikatan pasangan dengannya, kecuali jika suami binatang pertama itu sendiri bersedia memutuskannya atau meninggal dunia.
Ci Jue tahu Kloditis tidak memahami arti sebenarnya dari suami binatang pertama, dan dirinya pun bukanlah kandidat yang cocok untuk posisi itu.
Namun, ia menyukai hak istimewa yang dimiliki oleh suami binatang pertama.
Ia tidak akan pernah mengambil inisiatif untuk memutuskan ikatan pasangan mereka. Jadi, selain kematian, ia dan Lilith akan menjadi pasangan yang tidak pernah berpisah.
“Sudahlah, sudahlah. Aku dan dia baru saja berkenalan. Mana mungkin langsung menjadi pasangan?”
Kloditis menghela napas. Ia tidak tahu mengapa Ci Jue begitu tidak merasa aman.
Padahal ia sudah memberikan gigitan pertama kepadanya. Dalam hidup ini, selain berada di sisinya, mustahil bagi Ci Jue untuk pergi meninggalkannya dengan mudah.
“Bagaimana kalau setelah lukanya sembuh, kita mengantarnya ke Laut Gersang?”
Ci Jue terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Boleh. Kita bisa menanyakan pilihannya.”
“Ayo, A-Jue.”
Kloditis menggenggam tangan Ci Jue dan masuk bersamanya ke kamar perawatan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Kakak~”
“Kau datang!”
Bai yang sedang melamun mendengar suara itu. Ia mengangkat kepala dan melihat orang yang masuk. Ia segera berenang ke tepi akuarium, matanya berbinar-binar saat memandang Kloditis yang berjalan menghampirinya.
“Bai, rawatlah lukamu baik-baik di sini. Dua hari lagi aku akan datang menjengukmu.”
Ekspresi Bai tertegun sejenak. Dengan wajah sedikit sedih, ia menatap Kloditis. “Apakah Kakak marah kepada Bai?”
Kloditis tak kuasa menahan diri untuk mengangkat tangan dan mengusap rambut biru Bai.
Rambutnya yang basah membuat hati Kloditis diselimuti sedikit kesejukan.
“Jangan terlalu banyak berpikir. Rawat lukamu baik-baik.”
“Hmm.” Bai mengangguk patuh. Sepasang mata birunya yang indah dipenuhi rasa kagum dan cinta kepada Kloditis. “Bai akan merawat luka dengan baik. Kakak harus segera datang menjenguk Bai, ya.”
Kloditis benar-benar tak mampu menahan serangan pesona wajahnya. Setelah berbicara beberapa patah kata, ia pun membawa Ci Jue keluar.
Kloditis mengirimkan informasi tentang Bai kepada Bei Yuchuan dan memintanya membantu melakukan penyelidikan.
Dua hari kemudian, barulah Bei Yuchuan membalas. Ternyata ada manusia binatang pengembara lain yang tinggal di Hutan Belantara Utara. Hanya saja, karena hutan itu terlalu berbahaya, mereka tidak tercatat secara resmi.
Kloditis pun merasa lega.
Pagi tadi, Ci Jue membawa Ci Yu keluar untuk berlatih. Kalau begitu, sore ini ia bisa pergi menjenguk duyung itu.
“Bai, bagaimana keadaan lukamu hari ini?”
Saat memasuki kamar perawatan, Kloditis melihat duyung yang sedang bosan, tengkurap di atas akuarium sambil memainkan rambutnya.
“Kakak~ Kau datang!”
Begitu melihat orang yang datang, duyung itu mengibaskan ekornya dengan gembira hingga memercikkan air ke segala arah.
“Ya. Bagaimana keadaan lukamu?”
“Lukanya hampir sembuh.” Bai meletakkan ekornya di hadapan Kloditis.
Ekor putih itu sudah tidak lagi mengeluarkan darah. Di tempat sisiknya sebelumnya tanggal, sisik-sisik kecil juga mulai tumbuh kembali.
Kloditis mendengar suara Bai yang terdengar sedih. “Kakak tidak datang menemuiku selama beberapa hari. Bai sangat merindukan Kakak.”
“Oh, begitu.” Kloditis tersenyum canggung, lalu bertanya, “Bai, apakah kau masih memiliki keluarga?”
Mata biru itu seketika kehilangan cahayanya. Kloditis mendengar suara isak duyung itu di dekat telinganya.
“Bai sudah tidak punya keluarga. Semua keluarga Bai sudah meninggal. Sekarang hanya tinggal Bai seorang diri.”
“Maaf.”
“Kalau begitu, setelah lukamu sembuh, bagaimana kalau kuantar ke Laut Gersang?”
“Tidak mau!”
Kloditis tidak menyangka kalimat singkat itu akan membuat Bai menunjukkan wajah ketakutan.
“Ada apa denganmu?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ia sedikit kebingungan. Melihat Bai terus-menerus mengibaskan ekornya, ia segera bertanya.
Wajah Bai dipenuhi ketakutan. Hal itu membuat Kloditis mulai curiga, jangan-jangan Bai memang diusir dari Laut Gersang.
“Apakah kau diusir dari Laut Gersang?”
Bai berenang ke hadapan Kloditis, lalu menggenggam tangannya dan berkata dengan suara lembut, “Laut Gersang sangat menakutkan. Kakak tidak ingin mempertahankan Bai di sisimu?”
Ia menolak.
Memelihara duyung sebesar itu memang tidak mudah.
“Kita tidak memiliki hubungan apa pun. Aku tidak bisa mempertahankanmu di sini.”
“Kenapa?” Setelah ditolak dengan begitu kejam, Bai tampak terluka. “Apakah karena Kakak tidak punya uang?”
Kloditis: ...
Meskipun yang kaukatakan memang benar, mendengarnya tetap tidak membuatku senang.
“Ya. Karena itu, aku tidak begitu mampu memeliharamu.”
“Bai punya uang, Kakak.”
Sebelum Kloditis sempat bereaksi, ia melihat Bai mencabut beberapa sisik dari ekornya sendiri.
“Kakak, Bai punya uang. Sisik ikan bisa ditukar dengan uang.”
Bai mencabut sisiknya tanpa berkedip, membuat gigi Kloditis terasa ngilu.
Karena dicabut terlalu cepat dan kasar, seutas darah samar mulai menyebar di dalam air.
“Kau!” Kloditis mengerutkan kening. Namun, melihat Bai menangkupkan sisik-sisik itu di hadapannya, hatinya pun sedikit melunak.
“Bagaimana kau bertahan hidup selama ini?”
“Hmm, para manusia binatang itu bilang sisik bisa ditukar dengan uang, makanan, dan berbagai barang. Jadi Bai menukarnya.”
“Sudahlah.” Kloditis memijat pelipisnya. “Mulai sekarang, jangan pernah menukar sisikmu dengan uang lagi.”
Ia menghela napas, lalu kembali bertanya, “Apakah ekormu bisa berubah menjadi kaki?”
“Bisa, Kakak. Apakah Kakak hendak membawa Bai pulang?”
“Ya.”
Duyung di hadapannya terlalu polos. Kloditis tidak merasa tenang jika membiarkannya mengembara seorang diri, jadi untuk sementara ia memutuskan membawanya pulang.
Mengenai biaya untuk memeliharanya, tentu saja tidak mungkin ia membebankannya kepada Ci Jue.
Untungnya, uang dari Hualan juga sebentar lagi akan diterima. Sepertinya ia harus mencari cara untuk menghasilkan uang.
Halaman (3/3)