Bab Lima Puluh Tiga: Ning Hongzhuang Datang Menghadap
“Ayahmu? Ayahmu itu pasti Qi Kui, kan?” ujar Jiang Tian sambil mengingat-ingat.
“Benar, ayahku memang Qi Kui, orang-orang memanggilnya Raja Gedung Qi! Delapan puluh persen bisnis properti di Provinsi Jiangnan milik ayahku. Selama kau mau melepaskanku, aku bisa minta ayahku memberimu sepuluh juta, bahkan seratus juta! Seratus juta pun tidak masalah!” Qi Yang mengangguk berkali-kali.
Nama besar ayahnya, sepertinya seluruh Kota Yunzhou hampir tidak ada yang tidak tahu. Bahkan walikota pun akan memperlakukannya dengan hormat. Anak muda ini, asal masih waras sedikit saja, pasti tidak akan berani berbuat macam-macam padanya.
Namun, ketika ia sedang berkhayal seperti itu, tanpa diduga Jiang Tian langsung menamparnya keras.
“Aku sedang membicarakan urusanmu, kenapa kau malah membawa-bawa ayahmu? Apa kau benar-benar mengira aku akan mengampunimu hanya karena ayahmu?” Jiang Tian menatapnya dengan sinis.
Qi Yang memegangi wajahnya, menatap Jiang Tian dengan tak percaya.
Bukankah begitu? Ayahnya adalah Qi Kui! Sosok yang terkenal sebagai Tuan Besar Kui, yang berkuasa di dunia hitam maupun putih. Masa dia tidak takut?
Melihat ekspresi terkejut Qi Yang, Jiang Tian menggelengkan kepala, lalu langsung mencengkeram rambut Qi Yang dan berkata tegas, “Jangan bilang ayahmu itu Qi Kui, sekalipun ayahmu adalah Raja Langit, hari ini pun tak akan bisa menyelamatkanmu!”
“Apa maksudmu? Kau benar-benar ingin membunuhku? Ayahku itu Qi Kui! Kalau kau membunuhku, ayahku tidak akan membiarkanmu hidup!” Qi Yang menatap mata Jiang Tian yang dipenuhi niat membunuh, ketakutan setengah mati. Ia tak percaya Jiang Tian benar-benar akan sekejam itu.
“Oh ya? Kalau begitu, aku akan menunggu balas dendam darinya,” ujar Jiang Tian tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia menaruh telapak tangannya di atas kepala Qi Yang.
Dalam sekejap, terdengar suara keras.
Qi Yang hanya merasa sakit luar biasa di kepalanya, kemudian cairan merah dan putih mengalir dari lubang-lubang di wajahnya. Cahaya di matanya perlahan memudar, tubuhnya goyah lalu jatuh tersungkur ke lantai.
Otaknya telah hancur berantakan.
Menatap mayat Qi Yang, ekspresi Jiang Tian tetap datar, tanpa gelombang emosi.
“Berani-beraninya mengincar keluarga ku, kau pikir kau masih bisa hidup?” Jiang Tian menatap tubuh Qi Yang yang tak lagi bernapas, menepuk-nepuk tangan dengan senyum dingin.
Sejak Qi Yang berniat meratakan rumah keluarga Jiang, nasibnya sudah ditentukan.
“Tidaaak!” Dari kejauhan, Xiong Tianba melihat Qi Yang tergeletak di genangan darah tanpa nyawa, matanya merah menahan amarah.
“Anak muda, kau berani membunuh Tuan Muda Qi, bersiaplah menerima amukan Keluarga Qi!” teriak Xiong Tianba dengan suara serak dan penuh getaran.
Memang, petarung dalam batin itu kuat, tapi Keluarga Qi juga bukan orang sembarangan! Anak muda ini berani membunuh Qi Yang, dengan watak Tuan Besar Kui, pasti akan diburu sampai mati!
“Kau takut pada amukan Keluarga Qi?” Jiang Tian mendengar itu hanya tersenyum meremehkan, “Keluarga Qi itu apalah, kalau Qi Kui punya nyali, biar dia sendiri yang datang padaku. Kalau tidak, aku pun akan mendatanginya.”
Selesai bicara, ia mengayunkan tangannya, menampar Xiong Tianba hingga terlempar belasan meter.
“Bawa semua orangmu, enyahlah!” bentak Jiang Tian.
Untungnya, Xiong Tianba adalah petarung puncak kekuatan lahiriah, kalau orang biasa sudah pasti tewas. Dengan susah payah, ia merangkak bangkit, wajah berlumuran darah menatap Jiang Tian penuh dendam, “Anak muda, tunggu saja pembalasanku!”
Usai berkata begitu, ia tak berani berlama-lama dan segera membawa semua anak buahnya kabur.
Dalam hitungan detik, semua orang dan peralatan telah ditarik dari lokasi.
Jiang Tian menatap arah kepergian mereka, tersenyum sinis, lalu berbalik masuk ke rumah.
Ia melepaskan formasi penghalang yang dipasangnya sebelumnya, lalu beristirahat dengan tenang.
Malam berlalu tanpa kejadian, pagi pun menjelang.
Peristiwa semalam sama sekali tak diketahui ayah, ibu, maupun Jiang Wan’er. Setelah sarapan, semua kembali ke aktivitas masing-masing.
Jiang Tian yang sedang menganggur, membuka ponselnya lagi untuk mencari rumah baru.
Tinggal sebulan lagi menuju Tahun Baru, ia harus mempercepat pencarian.
Saat Jiang Tian sedang mencari-cari rumah yang lebih baik, tiba-tiba terdengar suara klakson di depan rumah.
Jiang Tian mengernyit, bangkit dan membuka pintu gerbang halaman.
Ia terkejut saat melihat sebuah Porsche putih berhenti di depan rumah.
Mobil mewah seperti itu, apa urusannya di tempat begini?
Saat ia masih heran, kaca jendela mobil perlahan turun, menampakkan seorang wanita cantik berwajah tegas, mengenakan kacamata hitam besar.
Melihat wanita itu, Jiang Tian tertegun.
“Itu dia?” Jiang Tian langsung mengenali wanita itu. Tak lain adalah pengusaha kaya raya, Ning Hongzhuang!
“Kenapa kamu?” Jiang Tian mengernyit, bertanya.
Ning Hongzhuang melepas kacamata hitamnya, lalu melambaikan tangan, “Naiklah, kita bicara di mobil.”
Jiang Tian sempat ragu, namun tetap melangkah ke arah mobil.
Saat itu, Jiang Wan’er keluar untuk membuang sampah. Melihat wanita cantik di mobil mewah, ia terkejut, lalu menatap punggung Jiang Tian, “Kak, siapa itu?”
“Oh, teman yang datang mencariku. Aku keluar sebentar,” jawab Jiang Tian singkat, lalu masuk ke mobil.
Melihat kakaknya didatangi wanita secantik itu, Jiang Wan’er melotot, buru-buru membuang sampah lalu berlari masuk ke rumah. Sambil berlari, ia berteriak, “Bu, kakak diajak jalan sama cewek cantik~”
Jiang Tian yang baru naik mobil hampir saja tersandung mendengar ucapan itu. Ia menoleh ke arah rumah, tersenyum kecut, “Anak ini, seharian apa sih yang ada di kepalanya?”
Ning Hongzhuang di dalam mobil juga sempat tertegun, lalu tersenyum tipis, “Itu adikmu?”
“Ya,” jawab Jiang Tian sambil mengangguk, lalu duduk dan menatap Ning Hongzhuang dengan serius, “Bagaimana kau tahu alamat rumahku? Kau menyelidiki aku?”
Ning Hongzhuang menatapnya, tidak menyangkal, “Aku benar-benar ada urusan penting, jadi terpaksa.”
Jiang Tian mendengar itu mengangkat alis sedikit, dalam hati mengakui kekuatan keluarga Ning memang luar biasa, bisa menemukan dirinya di kota berjuta-juta penduduk seperti Yunzhou, tanpa kekuatan jelas tidak mungkin.
“Urusan penting? Apa itu?” tanya Jiang Tian sambil mengganti posisi duduknya agar lebih nyaman.
“Bicarakan saja di jalan,” ujar Ning Hongzhuang sambil menyalakan mesin mobil, lalu melaju meninggalkan jalanan.
Di perjalanan, Ning Hongzhuang akhirnya mengungkapkan tujuan kedatangannya pada Jiang Tian.
Ternyata, semalam, penyakit kakeknya kembali kambuh, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Terpaksa, ia menyelidiki keberadaan Jiang Tian lalu datang sendiri menemuinya.
Jiang Tian mendengarnya langsung mengernyit, “Jadi, kakekmu kambuh lagi?”
“Benar, bukankah sebelumnya kau bilang dengan resepmu kakek akan sembuh dalam tujuh hari? Kenapa bisa begini?” Ning Hongzhuang mengangguk, menatap Jiang Tian penuh selidik.
Jiang Tian tidak langsung menjawab, “Apa kau mengira aku menipumu?”
Ning Hongzhuang tidak menjawab, jelas itulah yang ia pikirkan.
Jiang Tian terkekeh dingin, “Apa kau lupa yang pernah kukatakan? Kitab Panah Tujuh Berpaku itu terdiri dari dua boneka jerami. Satu sudah kuhancurkan, tapi yang satu lagi masih dipegang si pelaku.”
“Kalau ingin benar-benar sembuh total, harus menemukan pelaku di balik semua ini dan menghancurkan boneka jerami yang satunya. Hanya itu satu-satunya cara.”
“Jadi, sudahkah keluarga Ning menemukan dalangnya?”
Ning Hongzhuang tertegun mendengar penjelasan itu, wajahnya langsung muram dan menggeleng, “Belum, selama ini aku sudah mengerahkan seluruh kekuatan keluarga, tapi tetap tak bisa menemukan dalangnya! Orang itu sangat pandai bersembunyi ...”
Jiang Tian mendengar itu malah terkekeh, “Jadi, kalian tidak bisa menangkap pelakunya, malah menyalahkanku?”