Tamu Tak Diundang
Mobil itu berhenti di depan rumah keluarga Zhong, dan Xihe mengucapkan terima kasih kepada Zhong Chulou.
Tiba-tiba Zhong Chulou berkata, “Aku lapar.”
Xihe tertegun sesaat, lalu bertanya, “Mau ku buatkan mie untukmu?”
“Boleh.”
Akhirnya, mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Saat ia memasak mie di dapur, Zhong Chulou duduk di sofa sederhana di ruang tamu, diam-diam memperhatikannya lewat kaca pintu.
Ia memakai celemek, tubuhnya ramping, namun gerak-geriknya cekatan.
Pemandangan itu terasa begitu hangat, penuh kedamaian seakan waktu berjalan perlahan, dipenuhi aroma rumah yang menenangkan.
Zhong Chulou menatap adegan itu, entah mengapa teringat pada ibunya yang dulu pernah memasakkan mie untuknya.
Padahal ia kehilangan ibunya sejak lahir, dalam ingatannya sama sekali tak ada bayangan sang ibu, namun saat ini, wajah dan sosok ibunya seolah menjadi sangat jelas.
Menatap pemandangan itu, batinnya merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah mie matang, ia membantu membawa mie ke meja. Mereka duduk berhadapan, masing-masing dengan semangkuk mie, makan perlahan.
Tak ada percakapan di antara mereka, hanya fokus menghabiskan mie masing-masing. Setelah selesai, Zhong Chulou mengeluarkan sebuah kartu dan mendorongnya ke hadapan Xihe di atas meja. Xihe terkejut, tak paham maksudnya.
Zhong Chulou berkata, “Aku pinjamkan padamu, harus kau kembalikan. Setelah urusan cerai selesai, kau bisa cari kerja dengan tenang, kumpulkan uang, lalu kembalikan padaku.”
Melihat Xihe yang masih kebingungan dan tidak bisa berkata-kata, ia menambahkan, “Isinya lima ratus ribu yuan, harus kau kembalikan, tapi tanpa bunga.”
Xihe tak tahu bagaimana Zhong Chulou mengetahui kesulitan dan kebutuhannya. Zhong Chulou tersenyum dan berkata, “Asal ada niat, segalanya bisa diketahui.”
Tentu saja Zhong Chulou mendapatkan informasi itu dari Zhong Bingkun.
Ia menambahkan, “Sebaiknya kau terima saja dulu, sekarang bukan saatnya memikirkan harga diri dan gengsi.”
Akhirnya Xihe menerima kartu itu, bangkit mengambil kertas dan pena, lalu menulis surat utang untuk Zhong Chulou.
…
Ketika keputusan resmi perceraian dari pengadilan keluar, Ding Ziyou nyaris tidak percaya itu benar-benar terjadi.
Bukankah katanya gugatan cerai pertama biasanya tidak akan dikabulkan?
Bukankah ada masa tenang setahun sebelum perceraian bisa diputuskan?
Mengapa giliran dirinya, perceraian langsung dikabulkan?
Ding Ziqing segera menerima uang lima ratus ribu dari Xihe, namun ia pun tidak bahagia, sebab uang itu akhirnya hanya lewat tangan saja dan harus dikembalikan oleh Ding Ziyou. Mana mungkin Ding Ziyou mau mengembalikan uangnya? Sekarang, Ding Ziyou bahkan sampai ingin mencelakainya.
Begitu menerima salinan keputusan pengadilan, Ding Ziyou mengajak Li Xiong keluar, minum-minum sampai mabuk berat.
Saat terbangun, ia mendapati dirinya tidur di tanggul tepi laut, tempat Xihe pernah menerima lamarannya.
“Menikahimu adalah impian seumur hidupku.” Malam itu, di tanggul, di bawah sinar bulan, ia menyatakan cintanya pada Xihe.
Sebenarnya, perasaannya pada Xihe sudah bukan rahasia lagi.
Mereka adalah teman sekolah menengah, dan sejak saat itu ia sudah menyukai Xihe. Jika ada rumor di kelas tentang laki-laki lain yang juga menyukai Xihe, ia pasti menantang orang itu berkelahi.
Sayangnya, selama ini Xihe tidak pernah menaruh hati padanya.
Andai saja bukan karena kecelakaan Zhong Bingkun, Xihe sama sekali tidak mungkin menikah dengannya.
Setahun yang lalu, di tanggul itu juga, Xihe menerima lamarannya. Ia merasa sangat bahagia namun diam-diam juga merasa tidak adil.
Setelah menikah, setiap kali Ding Ziyou teringat alasan Xihe menikah dengannya bukan karena cinta, melainkan karena uang, ia jadi sangat gelisah. Ditambah lagi, Ding Ziqing membenci Xihe, selalu menghasut dan memperkeruh keadaan. Akibatnya, Ding Ziyou pun sering dibuat emosi, mencari-cari masalah dengan Xihe tanpa alasan.
Xihe sempat merasa sangat tersiksa dan tidak mengerti, mengapa Ding Ziyou yang selalu berkata cinta, setelah memilikinya, justru tidak bisa memperlakukannya dengan baik?
Dulu ia kira lelaki itu bisa menjadi pelindungnya, tapi ternyata justru badai terbesar dalam hidupnya berasal dari lelaki itu.
Setahun pernikahan, hanya membuat Xihe terluka lahir dan batin, namun sekaligus membuatnya lebih dewasa.
Pengalaman hidup membuat orang matang, dan Xihe pun belajar bagaimana segera mengambil keputusan tegas saat terjebak dalam kesulitan.
Sedangkan Ding Ziyou sama sekali tidak memiliki kesadaran seperti itu. Setelah menikah, ia terus terjebak dalam motif pernikahan Xihe, memperumit masalah, terpuruk dalam kebingungan tanpa bisa keluar. Kini setelah bercerai, ia semakin marah, putus asa, mudah tersinggung, membenci Xihe yang dianggapnya tidak punya hati dan mengkhianatinya, tanpa pernah mau introspeksi diri.
Ding Ziyou memang tidak mungkin menyalahkan dirinya sendiri.
Ia tidak pernah berpikir bahwa ia sendiri adalah penyebab utama berakhirnya pernikahan mereka. Padahal, mereka bisa saja bahagia, hanya saja ia tidak punya kemampuan, juga tidak punya niat menciptakan kebahagiaan. Ia hanya pandai menyalahkan orang lain.
Seperti sekarang, setelah bercerai, ia menyalahkan Xihe yang berubah sikap, menyalahkan Ding Ziqing yang menagih utang dan membuat Xihe pergi, tapi tidak pernah menyalahkan dirinya sendiri.
Ia tidak pernah menyadari bahwa sikap tidak bertanggung jawab dan emosinya lah yang membuat pernikahan mereka hancur.
Mungkin, seumur hidupnya Ding Ziyou memang tidak akan pernah sadar dan mau merenung.
Ia berasal dari dunia bawah, sedangkan Xihe laksana salju di musim semi—dua dunia yang berbeda, tak mungkin bersatu. Kalaupun bersatu, juga tidak akan bahagia.
Mau bagaimana pun Ding Ziyou mengatur hidupnya—terus terpuruk, mabuk-mabukan, atau terus meratapi nasib dan melampiaskan amarah—Xihe telah memutuskan untuk menjalani hidupnya kembali.
Ia telah bercerai, mendapat kesempatan baru. Kini, ia harus berusaha lulus ujian kerja, merawat putrinya, dan menabung untuk mengembalikan uang Zhong Chulou.
“Papa, kenapa Papa menceritakan semua masalah keluarga kita pada Dokter Zhong?” Setelah urusan perceraian selesai, Xihe akhirnya punya kesempatan bicara dengan Zhong Bingkun.
“Dokter Zhong bukan orang luar,” jawab Zhong Bingkun dengan nada wajar, sampai membuat Xihe hampir tak percaya.
“Papa, kita kan belum lama kenal Dokter Zhong…”
“Tapi kamu menerima bantuannya. Dari yang Papa tahu tentangmu, kalau kamu tidak menganggap seseorang sebagai sahabat, kamu tidak akan menerima bantuannya.”
Seperti dulu, ia menerima uang satu juta dari Ding Ziyou demi membantu ayahnya keluar dari kesulitan, karena ia sudah memutuskan menikah dengan Ding Ziyou, menganggapnya sebagai suami paling dekat seumur hidup. Sayangnya, hati tulusnya bertepuk sebelah tangan. Ding Ziyou menganggap kepercayaannya sebagai sesuatu yang tak ada nilainya, akhirnya ia pun salah memilih.
Penjelasan Zhong Bingkun membuat Xihe terkejut. Apakah benar seperti itu?
Zhong Bingkun menepuk bahu putrinya dan berkata dengan penuh makna, “Dokter Zhong orang baik, Papa bisa lihat ia sangat peduli padamu. Semoga kali ini kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
Namun, mana mungkin Xihe bisa memulai hubungan baru secepat itu?
Ia baru saja lolos dari kubangan lumpur.
Pernikahan dengan Ding Ziyou membuatnya sadar, seorang perempuan tidak boleh menggantungkan hidup pada laki-laki, atau ia hanya akan lebih menderita.
…
Suatu hari, Xu Xiaoduo keluar membuang sampah, bertemu dengan seorang wanita muda sekitar dua puluh tahunan yang sedang bertanya jalan, menyeret koper, tampak lelah setelah perjalanan jauh.
Wanita itu bertanya, “Paman, apa Anda tahu di mana rumah Qishui?”
Xu Xiaoduo sempat berpikir, jangan-jangan ia datang untuk operasi aborsi dengan Kak Qi?
Xu Xiaoduo segera mendekat, “Aku tahu rumah Dokter Qi, ikut aku saja.”
“Kakak, ada pasien datang!” Begitu masuk, Xu Xiaoduo dengan antusias memanggil ke dalam.
Qishui yang sedang merokok di dalam, mendengar ucapan itu langsung keluar, dan begitu melihat siapa yang datang, ia tertegun: Yan Xiaoyan!
(Bersambung)