Bab Empat: Uang Koin Bernilai Fantastis
Jalan barang antik bukanlah tempat yang asing bagi Lin Dong. Setelah berkeliling dengan belasan koin di sakunya, ia memutuskan untuk masuk ke toko barang antik yang paling ternama.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang pelayan saat ia melangkah masuk.
"Saya memiliki beberapa koin kuno dan ingin meminta bantuan seorang ahli untuk memeriksanya," jawab Lin Dong.
"Baik, Tuan. Mari ikut saya," ujar pelayan itu dengan ramah sambil mempersilakan Lin Dong masuk.
Setelah Lin Dong duduk, pelayan tersebut menyuguhkan secangkir teh dengan sopan. Tak lama kemudian, seorang pria tua berambut putih yang mengenakan pakaian tradisional Tiongkok muncul di hadapannya.
"Benda apa yang ingin Anda periksa?" tanya pria tua itu langsung ke pokok permasalahan.
Lin Dong pun mengeluarkan belasan koin dari sakunya.
"Ini koin kuno?" Pria tua itu tampak tertarik. Ia memakai kacamatanya, memungut satu koin untuk diamati sejenak, lalu mengangguk. "Benar, ini artefak. Sepertinya sudah berusia sangat tua."
"Boleh saya tahu, dari zaman apa koin-koin ini berasal?" tanya Lin Dong.
"Biar saya lihat," sahut pria tua itu seraya memperhatikan guratan tulisan pada koin. Meskipun koin tersebut sudah berkarat, tulisannya masih terlihat jelas, namun Lin Dong sendiri tidak memahami maknanya.
"Tulisan ini..." Pria tua itu tampak berpikir keras, raut wajahnya berubah serius, lalu ia menggeleng tidak percaya. "Tunggu sebentar."
Pria tua itu bangkit dan pergi, meninggalkan Lin Dong yang kebingungan. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah buku catatan.
"Tulisan ini, tulisan ini, di dalam..." gumamnya sambil membolak-balik buku. "Ketemu!"
"Ini ternyata aksara Beijiang! Ternyata peradaban Beijiang benar-benar ada di dunia ini!" Serunya dengan penuh semangat, seolah baru saja menemukan harta karun yang tak ternilai.
"Aksara Beijiang?" Lin Dong tertegun. Ia tidak banyak tahu tentang sejarah, namun ia yakin tidak pernah mendengar tentang aksara tersebut.
"Anak muda, dari mana kau dapatkan benda ini?" tanya pria tua itu dengan tatapan yang sangat antusias.
"Ini adalah warisan dari leluhur saya," jawab Lin Dong.
Melihat pria tua itu masih tampak bersemangat, Lin Dong bertanya, "Sebenarnya apa itu aksara Beijiang?"
"Kau mungkin tidak tahu," pria tua itu menghela napas. "Sejarah Tiongkok yang kita kenal selama lima ribu tahun ini hanyalah sebagian kecil dari sejarah yang sangat luas. Aksara Beijiang ini catatan sejarahnya sebagian besar hanya tersimpan dalam naskah sejarah tidak resmi. Aksara ini adalah gabungan dari tulisan masyarakat Dataran Tengah dan bangsa Xiongnu."
"Menurut catatan sejarah tidak resmi, sekitar seribu empat ratus tahun yang lalu, di masa paling kacau dalam sejarah Tiongkok, di antara wilayah Dataran Tengah dan kekuasaan Xiongnu, pernah berdiri sebuah negara kecil atau kota khusus bernama Beijiang."
"Negara itu hanya terdiri dari satu kota dengan puluhan ribu penduduk. Karena hanya bertahan kurang dari tiga puluh tahun, sejarah resmi mengabaikannya dan memasukkan wilayah tersebut ke dalam peta kekuasaan Dataran Tengah."
Lin Dong teringat pada lukisan kuno yang pernah ia lihat. Ternyata lukisan itu nyata, dan melalui benda itu, ia bisa melihat Beijiang yang legendaris, bahkan mungkin mengubah takdirnya. Ia berusaha menahan gejolak di hatinya.
"Lalu, apakah Anda tahu mengapa Beijiang musnah?" tanya Lin Dong.
"Menurut catatan sejarah, seribu empat ratus tahun lalu, wilayah utara yang berbatasan dengan Xiongnu mengalami kekeringan hebat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ratusan ribu orang tewas, dan Beijiang pun lenyap ditelan sejarah."
Mendengar penjelasan itu, hati Lin Dong mencelos. Ia menyadari bahwa ia benar-benar telah melihat masa lalu melalui lukisan tersebut. Beijiang yang ia lihat berada di ambang kehancuran akibat kekeringan.
Pria tua itu masih bergumam, "Konon, penguasa terakhir Beijiang adalah seorang wanita. Jika ini bisa dibuktikan, maka kaisar wanita pertama dalam sejarah bukan lagi Wu Meiniang."
"Saya bisa membuktikannya!" batin Lin Dong. Semuanya cocok! Ia hampir saja melompat dari kursinya, namun ia berhasil menahan diri.
"Berapa nilai koin-koin ini?" tanya Lin Dong kemudian.
"Nilainya?" Pria tua itu tampak tersinggung. "Kau mengukur harta karun ini dengan uang? Kau tahu apa arti dari penemuan koin ini?"
"Apa artinya?"
"Artinya, dalam sejarah panjang lima ribu tahun Tiongkok, telah muncul sebuah dinasti baru yang terbukti keberadaannya! Dinasti baru berarti budaya dan peradaban baru!"
Lin Dong menyadari bahwa ia tidak bisa berdebat dengan seorang budayawan. Ia meminta maaf berkali-kali. Setelah tenang, pria tua itu bertanya, "Siapa namamu?"
"Lin Dong."
"Aku Yang Bowen."
Lin Dong baru menyadari bahwa ia pernah melihat pria ini di televisi; ia adalah profesor barang antik terkenal di negara ini.
"Bagi saya, ini tidak ternilai harganya, tapi..."
"Profesor Yang, jangan sebut tidak ternilai. Jika Anda menginginkannya, silakan beli dengan harga pasar. Benda ini akan mubazir jika hanya disimpan oleh saya. Benda ini akan lebih berharga di tangan Anda," ujar Lin Dong tegas.
Setelah menimbang cukup lama, Yang Bowen berkata, "Berdasarkan aksaranya, ini memang mata uang Beijiang. Karena pengerjaannya kasar dan kondisinya tidak sempurna, saya hanya bisa menawarnya dua puluh ribu."
Hati Lin Dong sempat mencelos karena kecewa, namun kalimat berikutnya membuat hatinya melonjak girang.
"Maksud saya, dua puluh ribu per keping."
Dua belas koin, berarti dua ratus empat puluh ribu. Sebuah rezeki nomplok yang tak terduga.
"Terima kasih!" ucap Lin Dong.
"Anak muda, justru akulah yang harus berterima kasih padamu," jawab Yang Bowen.
Transaksi segera diselesaikan. Setelah bertukar kontak, Lin Dong pamit meninggalkan jalan barang antik. Sesaat setelah Lin Dong pergi, Yang Bowen segera melakukan panggilan telepon.
"Halo, kawan lama, kau masih sanggup bergerak?"
"Jika masih bernapas, segera datang ke tempatku!"
"Untuk apa?"
Yang Bowen tersenyum tipis. "Sejarah yang kau teliti selama sepuluh tahun lebih, aku telah menemukan buktinya untukmu!"