Um mundo onde a ordem entrou em colapso parecia além de qualquer salvação. Um misterioso Kamen Rider de cor magenta, autodenominado Decade, apareceu em meio a um cenário acinzentado, destruindo o mund
Gua penambangan yang gelap itu lembap seperti kerongkongan seekor raksasa, dipenuhi bau busuk yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Di dinding batu menempel lumut hijau berpendar, seolah hidup, menyala dan meredup mengikuti napas. Semua itu sungguh menjijikkan.
Sorot lampu tambang yang dipegang para pekerja sibuk menyapu ke sana kemari, dan bayang-bayang yang terdistorsi mendadak tampak seperti memanjang dengan taring runcing, membuat bulu kuduk meremang.
Namun setelah dilihat lebih tenang, ternyata itu hanya beberapa stalaktit yang menjuntai ke bawah, masih meneteskan cairan tak dikenal, menggenang di bawah sepatu menjadi kubangan lengket.
“Siapa nih anak? Kok bisa sejajar dengan Putri Yang Mulia?”
“Diam! Lihat pistol semprot biru di tangannya itu, kan? Nasib orang yang banyak mulut ya bakal dibikin beberapa lubang berdarah di badan, hahaha.”
……
Dalam suasana yang begitu muram dan aneh, para pekerja tambang tetap sesekali menggoda seorang remaja yang tampak bermalas-malasan. Remaja itu bukan berarti tak mendengar omongan mereka, hanya saja ia malas menanggapi. Dibandingkan memedulikan hal tak penting seperti itu, ia jauh lebih penasaran pada putri berambut emas bermata hijau yang ada di hadapannya.
“Yang Mulia Dante, sepanjang perjalanan ini kami mengandalkan Anda.”
“Baiklah, Putri Arthur yang cantik.”
Nama remaja itu memang Dante. Namun itu bukan nama aslinya; itu nama yang ia pilih sendiri karena ia merasa nama itu terdengar keren.
Lagipula, di dunia yang bukan miliknya ini, agak susah membuka mulut untuk