Bab Delapan Belas: Kau Sedang Jatuh Cinta!
Insiden "manipulasi suara" yang melibatkan Zhao Mo akhirnya resmi berakhir. Setelah badai opini publik ini berlalu, jumlah pengikut Zhao Mo di Langbo melonjak hingga satu setengah juta, sebuah pencapaian tak terduga yang membuatnya semakin populer. Bahkan acara “Pelatihan Idol” juga ikut kecipratan untung, mendapatkan sorotan luar biasa. Sutradara Zhou pun langsung melakukan reformasi besar dalam cara penayangan acara tersebut.
Sebelumnya, acara ini disiarkan dua kali seminggu secara langsung—satu episode untuk keseharian para peserta, satu lagi untuk kompetisi resmi, dan di akhir selalu ada versi suntingan khusus untuk para penggemar yang tak sempat menonton secara langsung. Pola ini memang membuat ritme acara sangat cepat, tetapi juga menambah beban kerja tim produksi.
Awalnya, ritme cepat ini diterapkan untuk mempertahankan keterikatan penonton. Namun, karena popularitas acara kini sudah sangat tinggi, kualitas siaran langsung pun mulai menjadi prioritas utama. Karena itu, Sutradara Zhou mengubah jadwal tayang menjadi satu episode per minggu—bergantian antara episode keseharian dan kompetisi—sehingga durasi total acara pun diperpanjang.
Perubahan ini tentu saja meningkatkan biaya produksi, sehingga Zhou menjalin kerja sama yang lebih mendalam dengan platform Douyin. Semua peserta pelatihan diwajibkan membuat dan memverifikasi akun Douyin, lalu aktif berinteraksi dengan penggemar di sana, termasuk memenuhi kuota siaran langsung setiap bulannya.
Usai semua ini, Zhao Mo secara berturut-turut menghubungi Zhang Jingwan dan Sutradara Zhou untuk mengucapkan terima kasih, bahkan mengatur janji pertemuan secara pribadi. Dari Sutradara Zhou, ia juga mendapatkan kontak Qin Kexin.
Zhao Mo menatap nomor telepon yang sudah ia ketik, namun lama tak juga ia tekan tombol panggil. Ia menggaruk kepalanya, tampak ragu. Sejujurnya, sampai saat ini ia masih belum mengerti apa alasan Qin Kexin membantunya.
Namun pada akhirnya, Zhao Mo tetap menelpon sang bintang girl group yang dikenal sebagai idaman banyak orang itu.
“Halo, siapa ini?”
Terdengar suara gadis muda yang manis dan lembut dari seberang telepon.
“Halo, Kakak Qin, saya Zhao Mo, peserta pelatihan. Saya menelepon khusus untuk berterima kasih atas bantuanmu.”
Zhao Mo mengucapkan kalimat yang sudah ia siapkan. Ia pun bingung bagaimana harus memanggil lawan bicaranya, lantaran mereka belum akrab. Namun demi kesopanan dan sesuai relasi di acara, ia memilih memanggilnya dengan sebutan Kakak Mentor.
Namun, Qin Kexin di seberang sana tak kunjung memberi respons.
Saat itu, Qin Kexin sedang duduk di ranjang mengenakan baju santai dan celana pendek. Begitu tahu yang menelepon adalah Zhao Mo, kepalanya langsung berdesing keras dan ia seolah membeku.
Saat itulah pintu kamar terbuka.
“Kexin, jangan murung terus. Ayo kita pergi makan,” ajak Bai Lu yang masuk ke kamar.
Qin Kexin buru-buru menutup lubang suara ponsel dengan satu tangan, tangan lainnya melambai-lambai meminta Bai Lu keluar.
Bai Lu sempat bingung, namun ketika melihat wajah Qin Kexin yang memerah, rasa ingin tahunya pun menggebu. Ia pun mendekat, mengangkat alis dengan genit, “Kau lagi teleponan sama cowok cakep, ya?”
“Ah, pergi sana!” seru Qin Kexin, makin gugup. Wajahnya semakin merah, satu tangan tetap menutup ponsel, tangan lainnya mendorong Bai Lu.
Tapi Bai Lu dengan santainya memeluk pinggang ramping Qin Kexin, menempelkan kepala ke perutnya, dan bersikap manja, “Aku nggak peduli, aku mau dengar kamu teleponan. Memangnya ada yang harus disembunyikan?”
Qin Kexin semakin malu dan panik. Apalagi saat itu, suara Zhao Mo yang terdengar bingung tiba-tiba muncul lagi dari ponsel, “Kakak Qin, apa suaraku terdengar? Sinyal di sana jelek, ya?”
“Hehe, beneran suara cowok. Sudah, lanjutkan saja bicara. Aku janji nggak akan ganggu,” kata Bai Lu sambil memperagakan gerakan mengunci mulut dan menutup rapat bibirnya.
Qin Kexin tak bisa berbuat apa-apa. Ia akhirnya melepas tangan dari lubang suara ponsel, namun karena grogi, suaranya sedikit bergetar, “Halooo, saya Qin Kexin.”
“Begini, Kakak Qin, saya menelepon khusus untuk mengucapkan terima kasih. Terutama karena sebelumnya Anda sudah membela saya di Langbo. Bantuanmu sangat berarti. Kalau tidak keberatan, bolehkah kita bertemu langsung? Saya ingin mentraktir makan sebagai bentuk terima kasih.”
Belum sempat Qin Kexin menjawab, Bai Lu sudah berbisik, “Ternyata benar Zhao Mo. Sudah kuduga hubungan kalian ada apa-apanya.”
Sejak Qin Kexin nekat membela Zhao Mo, Bai Lu memang terus saja menggoda dan mencari tahu hubungan mereka, namun Qin Kexin selalu mengelak dengan alasan hanya mengagumi bakat sang peserta pelatihan. Tapi sekarang, Bai Lu jelas menangkap basah keduanya.
“Ehm, Kakak Qin, apa ada orang lain di dekatmu?” tanya Zhao Mo.
“Tidak... tidak ada,” jawab Qin Kexin sambil melotot ke Bai Lu, yang akhirnya menutup mulut rapat-rapat.
Zhao Mo menggaruk kepala. Barusan ia memang sempat mendengar suara perempuan lain. Atau mungkin hanya perasaannya saja?
“Aku membantumu karena aku memang mengagumi... eh, maksudku, aku suka dengan kemampuanmu... ah, pokoknya kebaikanmu sudah aku terima. Soal makan bareng itu...”
Wajah Qin Kexin makin memerah, kata-katanya terhenti di ujung. Bai Lu malah usil, mencolek pinggang Qin Kexin, “Terima saja, ayo, ayo!”
Didesak Bai Lu, Qin Kexin akhirnya menyerah, “Tapi akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Kalau nanti aku ada waktu, kita janjian lagi, ya.”
“Baik, aku tunggu kabarmu,” jawab Zhao Mo.
“Ya, baik, dadah,” ujar Qin Kexin.
Setelah menutup telepon, Qin Kexin merasa lega, tapi sekaligus malu karena sudah menerima ajakan Zhao Mo untuk bertemu.
Bai Lu di sampingnya menggeleng, “Sudah kuduga, kalian memang ada apa-apa. Dulu ngotot menyangkal, sekarang ketahuan sendiri.”
“Lulu, bukan seperti yang kamu pikirkan,” Qin Kexin buru-buru membela diri.
“Ah, masa? Aku masuk kamar saja kamu sudah merah padam, jelas-jelas lagi dimabuk cinta. Jujur, kamu suka kan sama Zhao Mo itu?” ujar Bai Lu sambil menjatuhkan tubuh Qin Kexin ke ranjang dan mendesaknya, “Ayo, ngaku atau tidak?”
“Nggak, benar-benar nggak!”
“Aduh, keras kepala sekali! Biar aku periksa celanamu!”
“Aaa! Bai Lu, dasar nakal!”
Diiringi jeritan Qin Kexin, kedua bintang girl group itu pun bergumul di atas ranjang. Gadis-gadis, kalau sudah di antara teman dekat, bisa lebih brutal dari laki-laki, seperti menepuk bokong sebagai ucapan salam pada sahabat.
Sementara itu, di pihak Zhao Mo.
Setelah menutup telepon, ia masih merasa bingung. Ia merasa ada sesuatu yang aneh, seolah-olah bintang girl group itu mendadak gugup setiap bicara dengannya. Sulit baginya menjelaskan perasaan itu.
Saat itulah, telepon dari Zhang Jingwan masuk.
“Zhao Mo, ada waktu sekarang?”
“Ada, Kak Jingwan.”
“Bagus, datang ke rumahku. Manajerku akan menjemputmu.”
Tanpa memberi kesempatan pada Zhao Mo untuk menjawab, Zhang Jingwan langsung menutup telepon.
Zhao Mo melirik jam. Sekarang sudah pukul sembilan malam.