Bab 015: Kitab Rahasia Memasak
Qin Xuanxi menaiki kereta bertanduk sayap, meninggalkan Kota Luo. Di dalam kereta, perempuan berjubah biru bertanya, “Guru, ke mana kita akan pergi selanjutnya?”
Qin Xuanxi menjawab dengan tenang, “Kita akan pergi ke Kota Weng, menemui seorang sahabat lama.”
Kota Weng membawahi lima kabupaten, salah satunya adalah Kabupaten Cheng. Desa Qiuyu pun terletak di wilayah kekuasaan Kabupaten Cheng. Tentu saja, Qin Xuanxi tidak mungkin memberitahu kedua muridnya bahwa sahabat lama yang hendak ia temui adalah Song Ye, seorang manusia biasa yang pernah bertunangan dengannya. Toh, ia sendiri pun tidak akan mengakui pertunangan itu. Ia bahkan sudah menyiapkan alasan untuk menyangkalnya. Bagaimanapun, yang pernah bertunangan dengan Song Ye adalah “Qin Xiyi”, bukan dirinya sebagai Qin Xuanxi—setidaknya nama mereka berbeda!
Lagi pula, sekarang adalah masa perang; para sesepuh desa yang dulu menyaksikan pertunangannya dengan Song Ye, kemungkinan besar sudah tak banyak yang selamat dan kembali ke Desa Qiuyu. Jadi, tak akan ada “saksi pernikahan” yang bisa menuduhnya lari dari perjanjian. Kalaupun ada, pastilah mereka tak berani!
Karena Qin Xuanxi memang berniat menjenguk Song Ye, sahabat lamanya, tentu ia harus membawa hadiah. Ia teringat, Song Ye sangat menyukai daging binatang siluman. Sebelum ia meninggalkan desa pemula, ia pernah memberikan “uang pisah” berupa dua ekor binatang siluman kepada Song Ye. Namun, sebagai manusia biasa, Song Ye jelas tidak tahu memanfaatkan daging dan darah binatang siluman untuk membantu kultivasi; ia hanya menyukai rasa dagingnya yang unik.
Qin Xuanxi pernah mencicipi banyak daging binatang siluman yang rasanya lezat. Namun, daging binatang siluman bermutu tinggi biasanya sangat berharga untuk kultivasi, sehingga memberikannya kepada Song Ye yang tidak mengerti dunia kultivasi terasa kurang tepat.
Pada saat itu, Qin Xuanxi merasakan kehadiran Guru Dewa Wang dari Istana Taixu yang berada tiga puluh li di luar kota. Qin Xuanxi tahu, banyak Guru Dewa dari Istana Taixu gemar memelihara binatang siluman bernama kambing zirah hitam bertaring pedang sebagai tunggangan. Seluruh tubuh kambing ini dilapisi sisik hitam seperti zirah, dan giginya panjang tajam bak taring harimau, sehingga dinamai demikian.
Daging kambing zirah hitam bertaring pedang memang tidak begitu berharga untuk kultivasi, tapi rasanya sangat lezat. Karena itu, sering terjadi kasus pencurian kambing di Istana Taixu; banyak para petapa yang gemar makan suka diam-diam datang untuk mencuri kambing. Tentu saja, kambing ini pun sangat agresif, tanpa kemampuan yang memadai, belum tentu bisa menaklukkannya!
Qin Xuanxi menggunakan teknik perpindahan sekejap, muncul di hadapan Guru Dewa Wang. Saat itu, Guru Dewa Wang sedang duduk santai di atas punggung kambing zirah hitam bertaring pedangnya. Melihat Qin Xuanxi muncul tiba-tiba di depannya, ia sampai hampir terjatuh dari punggung kambing karena terkejut.
“Entah urusan apa yang membawa Penguasa Iblis Xuanyuan datang mencariku?” tanya Guru Dewa Wang dengan suara gemetar.
Qin Xuanxi langsung berkata, “Aku ingin mengambil kambingmu ini, apakah kau rela memberikannya?”
“Rela, rela!” jawab Guru Dewa Wang buru-buru, seolah takut bila terlambat sedikit saja, nyawanya akan melayang. Ia segera turun dari punggung kambing, lalu menuntun kambing zirah hitam bertaring pedang itu ke hadapan Qin Xuanxi.
“Penguasa Iblis Xuanyuan, aku juga punya satu buku ‘Kitab Masakan’ yang berisi tujuh belas resep olahan daging kambing. Silakan diterima!” Guru Dewa Wang tersenyum ramah, mengeluarkan sebuah kitab masakan dari ruang penyimpanannya, dan dengan kedua tangan menyerahkannya kepada Qin Xuanxi.
Ia tahu betul, kambing tunggangannya memang tak berharga untuk kultivasi. Qin Xuanxi mungkin hanya mengincar kelezatan dagingnya. Tak bisa disangkal, Guru Dewa Wang sangat bijak: bukan hanya tidak melawan, bahkan menyerahkan tunggangannya secara cuma-cuma, disertai resep masakan sebagai pelengkap.
Baginya, bila Qin Xuanxi ingin menghabisi nyawanya, itu hanya soal satu pikiran saja. Demi menyelamatkan diri, ia tak punya pilihan lain.
Qin Xuanxi masih mengenakan topeng ungu pembawa maut, sehingga Guru Dewa Wang tak bisa menebak apakah ia senang atau marah. Kedua tangannya yang memegang kitab masakan pun mulai bergetar.
Namun, setelah Qin Xuanxi mengangkat tangan dan menerima kambing zirah hitam bertaring pedang itu, ia pun segera melesat pergi.
Guru Dewa Wang akhirnya menghela napas lega—setidaknya ia masih hidup. Dalam satu hari, dua kali bertemu makhluk mengerikan ini, benar-benar hari paling sial dalam hidupnya. Namun, ia juga patut dianggap beruntung: dua kali bertemu Penguasa Iblis Xuanyuan, dua kali pula ia bisa selamat, meskipun harus kehilangan seekor tunggangan.
Tentu saja, ia selamat hanya karena Qin Xuanxi memang tidak sudi mengambil nyawanya!
...
Desa Qiuyu.
Saat itu, Song Ye menggeser sebuah bangku dan duduk di samping papan nama desa. Pada papan kayu itu tertulis tiga aksara besar: “Desa Qiuyu”.
Hari ini, tugas pemula yang diterimanya masih saja “Menjaga Desa”. Cukup duduk di situ sepuluh menit lagi, maka genaplah satu jam dan tugas pun selesai.
Ia menghitung, sudah satu tahun ia terperangkap di Benua Xuanying. Setahun lalu, tak pernah ia bayangkan “gangguan jaringan” yang ia alami akan begitu fatal, sehingga membuatnya terjebak di dunia ini setahun lamanya. Melihat situasi sekarang, tampaknya ia masih akan terus terkurung di sini.
Sudah lebih dari sebulan ia menjaga desa seorang diri. Seluruh warga desa memang telah pergi, namun di setiap rumah masih tersisa sedikit bahan makanan. Ia mengumpulkan semuanya, cukup untuk bertahan hidup beberapa waktu. Untuk urusan makan dan pakaian, ia tak perlu risau. Yang menyiksa justru waktu yang begitu panjang dan penuh kesepian.
Jangankan manusia, mencari seekor hewan pun untuk diajak bicara tidak bisa.
Saat-saat seperti ini, andai saja seperti setengah tahun lalu, tiba-tiba ada “Nona Lin” jatuh dari langit, pasti menyenangkan. Mengingat hari, sudah setengah tahun sejak “Nona Lin”—Qin Xiyi—meninggalkan tempat ini. Perempuan itu rupanya benar tak pernah berniat kembali.
Meski begitu, ia sudah menduga hal ini sejak awal. Ia pun tak pernah menaruh harapan untuk menyelesaikan urusan besar hidupnya di dunia permainan, meskipun dunia ini nyata adanya.
Untungnya, Song Ye memiliki ruang pemain untuk mengusir sepi. Setiap hari ia bisa masuk ke sana, berlatih pada patung kayu, mengukur perkembangan kekuatannya.
Kini, levelnya sudah mencapai 44, dengan atribut sebagai berikut:
- Darah dan Stamina: 469
- Jiwa dan Esensi: 50
Kerusakan tertinggi yang pernah ia hasilkan pada patung kayu adalah tujuh puluh enam ribu lima ratus poin, rekor yang ia capai pagi ini. Setiap hari, atributnya pasti lebih baik dari kemarin, sehingga angka kerusakan yang dihasilkan selalu bertambah.
Saat itu juga, muncul sosok ramping di hadapannya. Orang itu memandangnya dengan heran, “Pemilik warung teh? Kenapa kau masih di desa?!”
Song Ye menanggapi dengan senyum, “Wah, bukankah ini Guru Dewa Zhang? Kau nekat keluar sendirian, tidak takut Guru Dewa Su tahu dan memarahimu?”
Orang yang datang memang Zhang Zixuan. Kini, sudah setengah tahun ia menjadi murid Istana Xuanqing.