Bab 36: Penguasa Godaan (4)
Halaman 1 dari 3
Rumah sakit.
Di atas dua ranjang pasien, Cheng Jue sedang dibalut lukanya oleh dokter, sementara Fang Jingyi menunggu operasi dalam diam.
Dokter merasa sangat prihatin. Setelah operasi kali ini, dinding rahim gadis itu akan menjadi setipis selembar kertas. Di masa depan, ia akan sulit memiliki anak sendiri.
Air mata mengalir deras di wajah Fang Jingyi.
Mingmei memandanginya dalam diam, lalu berkata lirih, “Semuanya akan baik-baik saja.”
Pada akhirnya, Fang Jingyi tak mampu menahan diri dan menangis tersedu-sedu.
Operasi dimulai.
Lampu ruang operasi menyala.
Mingmei segera berjalan ke kamar Cheng Jue. Empat pria kekar membungkuk memberi hormat kepadanya, membuat Cheng Jue langsung menegang.
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin memberimu pengalaman hidup yang lain.”
Ia melambaikan tangan dan menggunakan sebuah jimat pengganti. Dengan jimat itu, untuk sementara waktu seluruh rasa sakit yang dialami Fang Jingyi akan berpindah ke tubuh Cheng Jue.
Karena ia sama sekali tidak menganggap tubuh Fang Jingyi penting, maka biarlah ia merasakan sendiri penderitaan yang telah ditimpakannya kepada wanita itu.
Si Bola Merah Muda tampak tak sabar. Jimat itu disediakan olehnya, dan ia sudah sangat ingin melihat hasilnya.
Cheng Jue semula berjaga-jaga menghadapi Mingmei. Namun, tanpa diduga, bagian bawah perutnya tiba-tiba terasa nyeri hebat. Rasanya seolah-olah ada bor tajam yang berputar-putar di dalam perutnya, hendak menghancurkan seluruh daging dan darah di tubuhnya.
Tubuhnya melengkung seperti udang karena kesakitan. Urat-urat di jari tangannya menonjol, keringat dingin bercucuran dari dahinya, matanya terbelalak, dan bibirnya membiru. Ia bahkan tak lagi memiliki tenaga untuk berteriak keras.
Tangannya terulur ke arah Mingmei. Dengan susah payah, ia memeras beberapa kata dari sela giginya.
“Tolong... selamatkan aku!”
Mingmei berbalik dan pergi, seolah-olah tidak mendengar apa pun.
Sambil memegangi perut, Cheng Jue mencakar ranjang hingga seprai tercabik. Perutnya kembali mulas hebat. Ia memuntahkan isi perutnya dengan suara keras, tetapi muntahan itu menyumbat lubang hidungnya dan kembali masuk ke saluran napas.
Ia merasa benar-benar akan mati kehabisan napas.
Fang Jingyi merasa dirinya mengalami mimpi yang sangat panjang.
Dalam mimpi itu, ia berubah menjadi orang luar yang menyaksikan dengan dingin saat Cheng Jue menjalani operasi pengguguran kandungan.
Dokter dalam mimpi itu bahkan sangat kejam—ia tidak memberikan obat bius dan langsung menggunakan mesin untuk menghancurkan bagian bawah tubuh Cheng Jue.
Dalam mimpi itu, Fang Jingyi merasakan kepuasan yang luar biasa.
Pada saat itulah ia menyadari betapa besar kebenciannya kepada Cheng Jue. Ia bahkan berharap dapat mencabik-cabik pria itu perlahan-lahan dengan tangannya sendiri.
Seorang wanita berjalan mendekat dari kejauhan. Wajahnya jelas-jelas adalah wajah sahabatnya, Su Mingmei, tetapi aura yang terpancar dari dalam dirinya membuat jiwa Fang Jingyi bergetar. Ia bahkan ingin membungkuk dan bersujud.
Wanita itu berkata dengan tenang, “Kau tidak akan pernah bisa menjadi seorang ibu lagi.”
Hati Fang Jingyi terasa getir, tetapi sudut matanya tak lagi meneteskan air mata. Dalam tahun-tahun yang dingin dan kejam itu, air matanya sudah lama terkuras habis.
Dari tangan wanita itu muncul sebuah kerucut yang memancarkan cahaya berkilauan. Dengan tenang, ia berkata, “Ini adalah Kerucut Waktu. Tancapkan benda ini pada pria itu, dan kau akan memperoleh kekuatan kesuburannya.”
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
“Aku tidak mengerti!” gumam Fang Jingyi.
Wanita itu berkata, “Ambil kemampuan reproduksinya dan pindahkan ke tubuhmu. Dengan begitu, kau akan kembali memperoleh hak untuk menjadi seorang ibu. Apakah kau berani?”
Kerucut Waktu itu melayang keluar dari tangan wanita tersebut dan berputar di udara di hadapan Fang Jingyi.
Fang Jingyi hanya tertegun selama sesaat sebelum menggenggam erat Kerucut Waktu itu.
Apakah ia berani?
Tentu saja ia berani!
Ia berbalik dan berjalan cepat ke hadapan Cheng Jue. Tak peduli pada tatapan ketakutan maupun suara minta tolong pria itu, ia menusukkan kerucut tersebut tanpa ragu.
Sensasi saat kerucut itu menembus tubuh sungguh terasa memuaskan!
Suatu kekuatan mengalir dari tubuh Cheng Jue ke dalam tubuhnya. Meskipun ia tidak mampu melihat keadaan tubuhnya dari dalam, ia dapat merasakan dengan jelas bahwa bagian-bagian tubuhnya yang rusak sedang dipulihkan sedikit demi sedikit. Rahimnya yang tipis dan rapuh kembali seperti semula.
Dengan gembira, ia menoleh, tetapi wanita itu sudah perlahan-lahan melangkah ke dalam kegelapan tanpa batas.
Ia ingin berkata, “Kerucut Waktumu!”
Namun, kerucut itu tiba-tiba buyar menjadi cahaya terang yang berkilauan seperti kunang-kunang di antara bintang.
Suara wanita itu terdengar dari dalam kegelapan, “Kau bukan kehilangan akal sehat, melainkan telah disesatkan oleh pria itu. Keberuntungan alam semesta yang dicurinya akan direnggut kembali. Setelah terbangun dari mimpi, kau akan kembali menjadi dirimu sendiri. Semoga kau dapat menjaga dirimu baik-baik.”
Fang Jingyi terlepas dari alam mimpi. Begitu membuka mata, ia langsung bertatapan dengan mata Mingmei yang dalam dan hitam seperti tinta.
Mingmei menempelkan telunjuk ke bibirnya dan memberi isyarat agar diam.
Hati Fang Jingyi pun tenang. Ia menutup kembali matanya.
Ia pasti hanya terlalu banyak berpikir. Itu hanyalah mimpi. Bagaimana mungkin mimpi menjadi kenyataan?
Di luar pintu, seorang pria kekar masuk dan berkata lirih, “Nona, dokter baru saja memeriksanya. Katanya bagian itu milik pria tersebut sudah rusak. Mulai sekarang, dia tidak bisa lagi dianggap sebagai laki-laki.”
“Begitu.” Mingmei mengangguk tanpa menunjukkan reaksi apa pun.
Fang Jingyi tiba-tiba membuka mata. Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya. Sama sekali tidak terasa sakit ataupun dingin. Sebaliknya, terasa hangat dan nyaman—berbeda dari sensasi yang ia rasakan saat menjalani operasi-operasi sebelumnya.
Tanpa sadar ia berkata, “Apakah mimpi itu benar-benar nyata?”
Mingmei menjawab dengan acuh tak acuh, “Kalau sudah membaik, cepat pulang. Aku tidak suka berlama-lama di rumah sakit.”
Fang Jingyi hampir tersedak mendengarnya, tetapi tubuhnya justru gemetar penuh kegembiraan. Mimpi itu... Mingmei tidak menyangkalnya. Berarti mimpi itu benar?
“Apakah kau Su Mingmei?”
“Kalau sampai hitungan ketiga kau belum pergi, aku akan pergi lebih dulu.”
Fang Jingyi tak berani banyak bicara lagi. Ia mencabut selang infusnya, lalu mengikuti langkah Mingmei dari belakang dengan patuh.
Ketika melewati sebuah cermin, langkahnya berhenti tanpa sadar. Ia memandangi pantulan dirinya yang berwajah cerah dan segar, seolah-olah kembali menjadi gadis berusia delapan belas tahun. Tak ada lagi keraguan di hatinya. Mimpi itu benar-benar nyata.
Kemudian, teringat pada penyakit Mingmei yang tiba-tiba membaik, ia segera menghubungkan semuanya. Jangan-jangan sahabatnya memperoleh kekuatan istimewa setelah jatuh sakit?
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Kalau memang begitu, ia harus segera berlindung di bawah sayapnya!
Dengan tergesa-gesa ia berseru, “Mingmei, tunggu aku!”
“...”
Berisik sekali!
Dokter memandangi punggung kedua wanita itu yang menjauh dengan wajah tak berdaya, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Anak muda zaman sekarang benar-benar tidak menghargai tubuh mereka sendiri.
Si Bola Merah Muda menatap Fang Jingyi dengan hina. Manusia tak tahu malu! Berani-beraninya ia merebut tuannya!
Mingmei meliriknya. Si Bola Merah Muda segera memasang senyum manis dan berkata dengan nada menjilat, “Tuan, Anda benar-benar tidak menginginkan Kerucut Waktu itu lagi?”
“Itu hanya tiruan. Hanya bisa digunakan sekali.”
“Oh!” Pantas saja tuannya sama sekali tidak merasa sayang.
“Apakah tugasnya sudah selesai?”
Si Bola Merah Muda buru-buru mengirimkan pemberitahuan.
【Kemajuan pelepasan keberuntungan: tiga puluh persen. Berhasil mengambil kemampuan istimewa Cheng Jue.】
Mingmei memandang Fang Jingyi dan bertanya, “Masih merasakan sesuatu?”
“Merasakan apa?”
“Pria itu.”
Wajah Fang Jingyi seketika berubah. Sejak selesai menjalani operasi, ia memang terus merasa ada yang aneh. Mengapa ia tidak lagi tergila-gila kepada Cheng Jue seperti sebelumnya? Sebaliknya, ia justru sangat membenci pria itu hingga ingin menggertakkan gigi.
Dengan lesu ia berkata, “Sudah tidak ada! Yang tersisa hanya kebencian!”
“Baguslah. Ingat, habisi dia saat sedang jatuh,” Mingmei mengingatkan.
Sorot mata Fang Jingyi bergerak. Sebuah rencana mulai terbentuk dalam benaknya. Cheng Jue ternyata juga merayu beberapa gadis lain. Jika mereka bersatu, mereka pasti cukup kuat untuk membuat pria brengsek itu terkenal—dalam arti yang paling buruk.
“Tenang saja. Aku tahu apa yang harus dilakukan.”
Mingmei mengangguk. Pikirannya melayang kosong ketika matanya menangkap sebuah iklan di televisi dalam area lift. Belasan pemuda berdiri berfoto bersama. Salah satu dari mereka langsung menarik perhatian siapa pun yang melihatnya.
Si Bola Merah Muda buru-buru berkata, “Tuan, dia adalah Qumi.”
“Begitu.”
Si Bola Merah Muda tampak ragu-ragu.
Mingmei meliriknya dari sudut mata. “Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan saja.”
“Tuan, kalau sekarang aku mengeluarkan tugas tentang Qumi, apakah Anda akan menyalahkanku? Kalau Anda akan marah, aku bisa menundanya.”
Mingmei tersenyum. Sikap menjilatnya benar-benar terasa menyenangkan.
Sistem Utama: “...”
Kau benar-benar telah mempermalukan seluruh sistem.