Bab 2 Rencana Dewi (2)
Kecantikan perempuan itu begitu memukau dan cerah, namun pembawaannya bening dan sederhana bak bunga krisan di musim gugur. Benar, ia sungguh wanita cantik yang penuh kontradiksi.
Darah segar menetes dari ujung jarinya, jatuh satu per satu ke lantai, warnanya pekat dan mencolok, bagaikan bunga kapas yang baru mekar.
Rasa sakit perlahan merambat. Dengan santai, ia melirik luka di tangannya, tampaknya pemilik tubuh ini sebelumnya telah memecahkan kaca cermin.
Begitu cantik, tapi berwatak keras juga?
Aneh, tapi sungguh cocok dengan seleraku!
Perempuan itu berbalik duduk di atas sofa, menunggu dengan tenang sistem mengirimkan alur cerita. Namun, yang dinanti tak kunjung tiba, membuatnya bergumam, “Hmm?”
Sistem itu langsung tegang, tergagap, “Tuan... Tuan, tidakkah Anda ingin membalut lukanya dulu?”
“Kau saja yang balut!”
Sistem itu diam seribu bahasa. Tiba-tiba ia merindukan tuan sebelumnya, meski agak bodoh, setidaknya waktu itu ia masih bisa berdiri, bukan berlutut seperti sekarang.
“Tak mau?”
Nada bicara perempuan itu datar, namun sistem itu tiba-tiba merasa terancam, segera menyambut, “Mau, mau!” Ia langsung mengambil obat antiseptik dan kain kasa dari salah satu laci, lalu dengan hati-hati membersihkan luka itu.
Jika ada orang yang masuk saat itu, ia hanya akan melihat pemandangan aneh: botol antiseptik dan kain kasa melayang-layang di udara.
Melihat cara perempuan itu memanfaatkan sistem tanpa canggung, sistem menduga bahwa perempuan ini sudah terbiasa berurusan dengan sistem, mungkin salah satu tokoh besar di antara para pengguna. Ia pun tak berani menunda, segera mengirimkan alur cerita, bahkan berusaha keras meringankan ketidaknyamanan saat menerima alur itu.
Setelah semuanya selesai, sistem merasa bingung. Ia tak paham kenapa setiap kali bertemu pengguna ini, lututnya selalu terasa lemas dan ingin berlutut.
Apa mungkin ia memang terlahir sebagai pecinta rasa sakit?
Atau, seperti kata sistem lain, perempuan ini benar-benar... dewi?
Entahlah, ia pun tak mengerti, hanya merasa kagum.
Perempuan itu memejamkan mata, menerima alur cerita dengan nyaman, wajahnya tetap tenang, tak memperlihatkan sedikit pun emosi. Dalam hati, ia menyaring informasi yang masuk, merangkumnya menjadi hal-hal penting yang mudah dipahami.
Pemilik tubuh ini bernama Ruan Mingmei.
Ibunya dulu terkenal cantik, memikat ayahnya yang pebisnis ulung. Mereka jatuh cinta, menikah, lalu melahirkan Ruan Mingmei.
Namun, setelah melahirkan, barulah ibunya tahu bahwa sang ayah menyembunyikan pernikahan sebelumnya. Demi menikahi ibunya, ayahnya menceraikan istri pertama.
Pernikahan kedua bukan masalah, namun yang membuat sakit hati, ayah dan istri pertamanya ternyata hanya bercerai di atas kertas. Mereka tetap hidup bersama, hanya saja semua itu disembunyikan dari ibunya.
Ibunya Ruan Mingmei adalah perempuan polos, tak bisa menerima kebohongan. Ia pun membawa Mingmei pulang ke kampung halaman tanpa banyak bicara, langsung bercerai.
Setelah bercerai, ibu dan anak itu menjalani hidup sederhana, meski serba kekurangan, namun penuh kebahagiaan.
Namun, malang tak dapat ditolak, saat Mingmei duduk di bangku SMP, ibunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas.
Setelah mengurus pemakaman, ayahnya membawa Mingmei kembali ke rumah istri pertamanya, dan sejak itu Mingmei hidup menumpang di rumah orang lain.
Ayah dan istri pertamanya memiliki seorang putra dan putri. Mereka berdua menganggap ibu Mingmei perempuan perusak rumah tangga, sehingga sangat membenci Mingmei.
Mingmei sangat marah. Ibunya yang suci dan cantik justru menjadi korban penipuan ayahnya. Drama perceraian palsu yang dilakukan ayah dan istri pertamanya membuat ibunya sakit hati seumur hidup. Kalau harus ada perhitungan, seharusnya mereka sekeluarga yang harus bertanggung jawab pada Mingmei.
Hubungan mereka bertiga pun sangat tegang.
Kakaknya, Ruan Chenyu, selalu memandang rendah orang lain. Sementara adiknya, Ruan Lingling, sering mengatur siasat untuk menjatuhkan Mingmei.
Istri pertama ayahnya pun berpura-pura ramah di depan sang ayah, namun di belakang selalu menyindir dan mempermalukan Mingmei.
Mingmei pernah ingin mengadu pada ayahnya, sayangnya sejak kecil ia tak pernah hidup bersama ayah, bahkan tak tahu harus mulai dari mana untuk mengadukan nasibnya.
Lama-kelamaan, ia makin merasa asing dengan keluarga ini. Bahkan ayahnya menganggap Mingmei berkepribadian suram dan menyesal telah membawanya pulang karena membuat rumah tidak tenteram.
Untungnya, Mingmei cantik dan pandai. Di sekolah, ia masih bisa bernapas lega.
Sayangnya, di sekolah beredar rumor bahwa ibunya adalah perempuan simpanan. Banyak orang yang iri pada kecantikan dan kepintarannya. Tak seorang pun peduli apakah rumor itu benar atau tidak, semua mulai memusuhi dan mengucilkan Mingmei. Bully di sekolah pun menjadi hal biasa baginya.
Akhirnya, Mingmei menderita depresi. Beberapa kejadian setelahnya memperparah penyakitnya, nilai pelajarannya pun merosot drastis.
Padahal, dengan dasar akademik yang kuat, meski tak lolos ujian perguruan tinggi negeri, setidaknya bisa masuk universitas biasa. Namun, sehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi, ia dijebak oleh Ruan Lingling hingga gagal mengikuti ujian tersebut.
Gagal masuk perguruan tinggi, ia tak lagi punya tempat di rumah maupun di sekolah.
Namun Mingmei tetap tegar. Ia berniat bekerja sambil belajar mandiri untuk mencari jalan hidup.
Namun, Ruan Lingling tak pernah puas. Ia menyuruh orang merusak wajah dan menodai kehormatan Mingmei.
Setelah bertahun-tahun menderita depresi, kali ini Mingmei benar-benar kehilangan harapan. Ia meloncat dari lantai atas, meninggal di usia delapan belas tahun.
Setelah kematiannya, kedua saudara tirinya hidup mulus tanpa hambatan. Ruan Chenyu mewarisi perusahaan ayahnya, sementara Ruan Lingling mendapat mahar yang sangat besar. Mereka berdua hidup dengan sombong dan pamer hingga tua.
...
Mingmei membuka mata, merasakan gelombang getir yang kuat di dadanya, sisa nestapa yang ditinggalkan pemilik tubuh sebelumnya.
Ia menatap cermin yang telah pecah.
Waktu kini tepat ketika Ruan Lingling menuduh Mingmei mencuri uangnya. Ibu tiri Mingmei langsung memaki Mingmei tanpa ampun dan mengambil seluruh uang sakunya yang memang sudah tak seberapa.
Mingmei bahkan tak punya uang untuk sarapan minggu depan.
Ia tak bisa mengadu, sebab di depan orang yang menganggapnya musuh, siapa pun pembelaannya takkan didengar.
Yang paling menyakitkan, dengan mulut Ruan Lingling, hampir pasti besok rumor ia pencuri akan menyebar ke seluruh sekolah.
Lemah, malang, dan tak berdaya!
Benar-benar tragis!
Mingmei mengangguk, lalu melirik kain kasa di tangannya. “Lumayan juga teknikmu!”
“Semua demi Anda, Tuan!”
Mingmei terkekeh, benar-benar sikap penjilat yang membuat nyaman!
Ia berdiri dan melangkah keluar.
“Tuan, Anda mau ke mana?”
“Menghajar para bajingan!”
Sistem itu hanya bisa terdiam. Benar-benar pengguna yang rajin!
Tapi, mengapa langkahmu terdengar penuh dengan aura membunuh?
“Tuan, dunia ini negara hukum, membunuh itu melanggar hukum!”
Mingmei menoleh, mengucapkan satu per satu kata, “Me-lang-gar hu-kum?”
“Benar, benar!”
“Kalau begitu, cukup dihajar saja. Kalau sekali belum cukup, dua kali.”
Sistem itu lagi-lagi terdiam. Memukul orang juga melanggar hukum.