Bab 34: Kemarilah
Sun Haotian bukanlah orang baik, tetapi Ding Yan pun sama saja.
Dia merasa seperti baru saja melompat dari satu lubang api ke lubang api lainnya.
Tempat parkir yang luas itu sepi tanpa seorang pun. Ding Yan mencengkeram pergelangan tangan Ding Yu dengan erat, menyeretnya menuju mobilnya tanpa memberi ruang untuk membantah. Ding Yu terhuyung mengikuti langkahnya, keringat dingin membasahi punggungnya.
"Aku bisa berjalan sendiri," bisik Ding Yu, mencoba melepaskan diri.
Ding Yan tidak memedulikannya. Dia membuka pintu belakang dan mendorong Ding Yu masuk. Saat pintu tertutup, Ding Yu mencium aroma cendana yang bercampur dengan bau kulit di dalam mobil—wewangian mobil yang sering digunakan Ding Yan. Aroma yang dulu membuatnya merasa tenang, kini justru menyesakkan napasnya.
Dia merasa mual dan tidak nyaman. Ding Yan menekan tengkuknya dengan wajah dingin, memaksanya untuk mendongak. "Sekalipun kau ingin muntah, tahanlah."
Dia menoleh ke arah pengemudi dan memerintahkan untuk segera jalan. Tiba-tiba teringat sesuatu, dia menatap Ding Yu dengan pandangan tajam. "Apa kau sudah tidur dengan Chen Xu? Apa kau hamil?"
Ding Yu duduk merapat ke sisi pintu, alisnya berkerut kesal. "Ding Yan, kau sudah gila! Apa kau pikir Chen Xu serendah dirimu?"
Ucapan itu menyentuh titik terlarang Ding Yan. Amarahnya membuncah, matanya menatap tajam ke arah Ding Yu. "Lebih baik kalau belum. Keperawananmu hanya boleh diberikan kepadaku."
Dia mencengkeram dagu Ding Yu, memaksanya untuk menatap matanya langsung. "Pulanglah, jadilah nona muda yang patuh, dan jangan lakukan perlawanan yang sia-sia."
Ding Yu berusaha melepaskan tangannya dengan sekuat tenaga, tatapannya penuh kebencian. "Aku tidak akan pernah menjadi burung dalam sangkarmu."
"Xiao Yu, kenapa kau tidak bisa sedikit lebih patuh!" Suara Ding Yan meninggi, disertai embusan napas berat. Kekecewaan yang bergejolak di dadanya seolah akan meledak.
Pada akhirnya, Ding Yan hanya bisa mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri.
"Kau merasa di atas angin hanya karena kau tahu aku tidak tega berbuat kasar padamu, bukan?"
Ding Yu memejamkan mata, terdiam. Di dalam mulutnya terasa anyir darah akibat gigitan pada bibir bawahnya yang dilakukan terlalu lama. Sepertinya itu satu-satunya cara agar dia tetap sadar.
Mobil melaju ke jalan utama. Malam tampak gelap gulita, lampu jalan menyapu kaca mobil dengan bayang-bayang yang timbul tenggelam. Saat berpapasan dengan kendaraan lain, Ding Yu melihat mobil polisi yang melintas dengan sirene yang meraung-raung.
Sebelum pergi, Ding Yan telah menelepon kantor polisi untuk menjelaskan bahwa Ding Yu baik-baik saja dan laporan polisi itu hanyalah kesalahan teknis. Jadi, mobil polisi itu tidak datang untuk menolongnya.
Ponsel dan tas Ding Yu berada di tangan Ding Yan. Satu-satunya jalan untuk meminta bantuan terasa begitu dekat namun tak terjangkau. Dia tidak punya tempat untuk mengadu, hanya bisa menatap mobil polisi yang suaranya kian menjauh melalui kaca jendela.
Di jalan ada polisi lalu lintas yang sibuk mengatur arus kendaraan, tidak sempat memeriksa keadaan di dalam mobil.
Namun, seandainya pun mereka tahu, apa yang bisa mereka lakukan? Dengan koneksi yang dimiliki Ding Yan, jika dia mencoba melawan secara terang-terangan, itu sama saja dengan ngengat yang terbang ke dalam api.
Di dalam mobil, suara Ding Yan tiba-tiba melunak. "Beberapa hari ini, aku sangat merindukanmu."
Tubuh Ding Yu menegang. Segudang makian tertahan di dalam hatinya, namun dia tidak berani mengungkapkannya karena takut memancing amarah Ding Yan dan membahayakan dirinya sendiri.
Saat dia sedang memikirkan cara untuk merespons, seberkas cahaya lampu jauh yang menyilaukan menyorot tajam dari arah belakang, diikuti oleh suara raungan mesin yang memekakkan telinga.
"Tuan Ding! Ada mobil di belakang—"
Belum sempat pengemudi menyelesaikan kalimat ketakutannya, suara dentuman keras terdengar diiringi guncangan hebat. Tubuh Ding Yu terlempar ke depan, dahinya menghantam sandaran kursi dengan keras.
Dunia seakan berputar. Bubuk putih dari kantong udara yang meledak memenuhi udara. Ding Yu mendengar suara logam yang meliuk parau dan mencium bau menyengat dari kebocoran bahan bakar.
Wajah Ding Yan menggelap. Dia segera melepas sabuk pengaman dan menarik Ding Yu ke arahnya. "Apa yang terjadi?"
Pengemudi itu berwajah pucat pasi. "Se... sepertinya itu Chen..."
Ding Yan membaca kecemasan di wajah pengemudi. Dia bergeser ke tengah dan benar saja, melalui kaca dia melihat sosok Chen Xu.
Ding Yu merasa pusing luar biasa. Belum sempat dia tersadar dari benturan, pintu mobil ditarik paksa. Angin dingin menyerbu masuk ke dalam kabin, diikuti oleh sesosok pria jangkung yang berdiri membelakangi cahaya.
"Tuan Ding ternyata sangat memikirkan istri orang lain, ya." Suara rendah pria itu bernada sindiran, seperti pisau yang menusuk udara yang membeku.
Ding Yu mendongak, matanya bertemu dengan tatapan sedingin es milik Chen Xu. Dia mengenakan mantel hitam dengan kerah yang sedikit terbuka, cahaya malam menciptakan bayangan tajam pada profil wajahnya yang tegas.
Ding Yan melepaskan Ding Yu, suaranya meninggi. "Chen Xu, kau sudah gila?"
Chen Xu tidak memedulikannya, tatapannya terkunci pada wajah pucat Ding Yu. "Kemari."
Dia mengulurkan tangan dengan perintah yang singkat dan tegas.
Otak Ding Yu masih terasa kacau akibat benturan. Melihat Chen Xu yang hanya berjarak satu langkah darinya, dia mengira sedang bermimpi.
"Kubilang, kemari." Chen Xu mempertegas ucapannya, jarinya bergerak tidak sabar.
Ding Yan tiba-tiba tertawa, tawa yang sarat akan sarkasme. "Tuan Chen benar-benar perhatian pada adikku, ya."
Chen Xu ikut tertawa. Dia mengeluarkan ponsel dari saku dalam mantelnya, membuka kunci layar, lalu mengarahkannya ke depan Ding Yan. "Secara hukum, Ding Yu adalah istriku. Apa kau ingin mengagumi surat nikah kami? Tuan Ding, jika otakmu bermasalah, sebaiknya segera diperiksa. Terus-menerus memikirkan istri orang bukanlah hal yang baik."
Chen Xu dengan tidak sabar mencondongkan tubuh ke dalam dan menarik Ding Yu keluar dari kabin.
Kekuatannya lebih besar dari Ding Yan. Ding Yu terhuyung jatuh ke dalam pelukannya, hidungnya membentur dada pria itu yang bidang.
Suhu malam itu belasan derajat di bawah nol, namun saat ini, dia sama sekali tidak merasa kedinginan.
Jin Cao yang berada di kursi pengemudi memperhatikan dari jauh, dia merasa sedang menonton pertunjukan sekaligus melihat dua mobil mewah yang telah berubah bentuk akibat tabrakan.
Dia membatin: "Cih, wanita memang sumber bencana. Belum sampai seminggu, dua mobil mewah bernilai jutaan sudah rongsok. Memang enak jadi orang kaya, mobil mewah dijadikan mainan mobil-mobilan."
Di depan mobil, Chen Xu menyelimuti Ding Yu dengan mantelnya dan tanpa berkata apa-apa, membawanya menuju mobilnya sendiri.
Ding Yan juga turun dari mobil. Bekas luka di dahinya yang berdarah tampak sangat mencolok di bawah lampu jalan yang pucat. Dia menatap tangan Chen Xu yang memeluk pinggang Ding Yu dengan tatapan dingin yang membara.
"Chen Xu, apa kau benar-benar berpikir kau bisa menutupi langit di Jingshan?"
"Aku tidak punya kemampuan sebesar itu. Tapi dibandingkan dengan Tuan Ding, aku memang sedikit lebih kuat," jawab Chen Xu sambil tersenyum tipis.
Ding Yan menyipitkan mata, cahaya kejam terpancar dari dasar matanya. "Bagaimana jika hari ini aku bersikeras untuk merebutnya?"
Pandangan Ding Yu beralih di antara keduanya. Saat memejamkan mata, dia berharap bisa menutup telinganya juga.
Tepat saat Chen Xu dan Ding Yan terlibat ketegangan, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
"Polisi datang," ujar Ding Yu dengan perasaan lega. "Chen Xu, nanti di kantor polisi..."
Chen Xu memutus ucapannya dan segera menggendongnya. "Urusan keluarga tidak perlu dicampuri orang luar."
Rasa kehilangan pijakan menyergap, Ding Yu berseru kaget dan refleks merangkul leher Chen Xu.
Chen Xu melangkah lebar menuju mobil Bentley miliknya yang masih bisa dijalankan, sama sekali mengabaikan wajah dingin Ding Yan dan suara sirene polisi yang kian mendekat.
Ding Yan mencoba menerjang namun dihalangi oleh Ji Feng dengan gesit.
"Tuan Ding, merusak pernikahan orang lain adalah kejahatan berat. Apa Anda yakin ingin bertindak kasar di depan polisi?"
Ji Feng mengabaikan wajah Ding Yan yang penuh kemarahan dan membungkuk dengan sopan. "Tuan Ding, mengenai kerusakan kendaraan, pengacara kami akan menghubungi Anda. Semoga malam Anda menyenangkan."
Ding Yan mendengus dingin. "Jika Chen Xu mati, baru aku akan merasa senang."