Bab 31 Aku Akan Mengenalkan Kakakku Kepadamu
Melihat bagaimana Cheng Feng menutup pintu dengan dingin dan tanpa belas kasihan, sama sekali tak peduli pada nasibnya, hati si kucing kecil jadi sangat sedih.
Maafkan aku, manusia.
Aku masih punya misi yang harus diselesaikan, jadi aku harus bertahan hidup, mau tak mau harus menumpang di tempatmu.
Kucing putih kecil itu berpikir dalam hati, mata biru langitnya menatap jendela yang terbuka setengah, lalu berjongkok dan tiba-tiba melompat, berubah menjadi bayangan putih yang melesat masuk ke dalam.
Keesokan harinya.
Secercah cahaya pagi menembus celah tirai, menyebar menjadi bintik-bintik emas yang menari di dalam kamar.
Saat Cheng Feng bangun, ia tak memperhatikan kalau jendelanya belum tertutup rapat. Jika ia mendekat dan memeriksa, pasti akan menemukan beberapa helai bulu putih yang tertinggal di tepi jendela.
Baru saja bangun tidur, ia melihat layar ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur menyala. Setelah dilihat, ternyata pesan dari Liu Shiyu di aplikasi sosial, memintanya datang ke Dojo Pedang Cahaya.
Pagi-pagi begini, ada urusan apa di tempat latihan?
Jangan-jangan, senjata spiritual khusus untukku sudah tiba?
Cheng Feng langsung teringat hal itu, matanya pun berbinar.
Ia segera mencuci muka, menggosok gigi, ke toilet, lalu menghabiskan sepotong roti dan sebotol susu, setelah itu berangkat naik motor.
Sebelum keluar, ia sempat melirik sekeliling luar pintu, namun tak menemukan bayangan kucing putih kecil itu.
Sepertinya, ucapan tegas dan tak berperasaan semalam benar-benar membuatnya tahu diri lalu pergi.
Di saat yang sama, dari dalam lemari pakaian samar-samar terdengar suara dengkuran halus.
Jika seseorang mengintip ke dalam lemari, akan terlihat seekor makhluk berbulu putih, melingkar seperti bola.
Kucing putih kecil itu tidur dengan sangat nyenyak dan manis, suara dengkuran pelan keluar dari tenggorokannya.
Sepertinya sedang bermimpi indah, sesekali lidah merah mudanya menjilat bibirnya sendiri.
“Hrrr... hrrr... hrrr...!”
Diterpa angin musim panas pagi hari, Cheng Feng memacu motor dengan kecepatan tinggi di jalanan yang ramai, memutar gas lebih kencang.
Tiba-tiba ia teringat, rasanya tak pantas kalau ia terus datang ke dojo dengan tangan kosong.
Bagaimanapun, kekuatannya bisa meningkat pesat sampai sejauh ini, semuanya berkat latihan keras bersama Guru Yan Ruying.
Setiap kali ke tempat latihan, ia selalu ditemani seharian penuh, secara etika ia memang sudah seharusnya membawakan sesuatu sebagai tanda terima kasih.
Ia pun membelokkan setir, dan mampir ke sebuah supermarket 24 jam terdekat.
Hari ini hari kerja, jadi pengunjung supermarket tidak terlalu ramai. Cheng Feng tidak mengambil troli, hanya membawa sebuah keranjang, berniat belanja seperlunya saja.
Pertama-tama ia menuju ke bagian rokok.
Walau Yan Ruying adalah seorang perempuan, tapi sepertinya berlatar belakang militer, dan suka merokok.
Pernah suatu kali saat istirahat latihan, Cheng Feng melihatnya mengeluarkan sebungkus rokok, lalu dengan sok tahu ia berkata: “Perempuan kok merokok?”
Anak muda, kau tahu apa? Aku ini mudah gelisah dan marah, hanya saat merokok saja aku merasa lebih tenang.
Itulah jawaban Yan Ruying waktu itu, hanya sepatah kata sederhana, dan Cheng Feng pun menyimpulkan bahwa itu adalah topik terlarang baginya, jadi ia tidak bertanya lebih jauh.
Saat ia berjalan ke bagian camilan, ia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun melompat-lompat di tempat, berusaha meraih keripik kentang di rak, tapi tetap saja tidak sampai, mukanya kelihatan cemas.
Cheng Feng pun mendekat dengan niat baik, “Hei, butuh bantuan?”
Anak laki-laki itu memandang Cheng Feng, lalu mengangguk.
Cheng Feng pun mengambilkan keripik kentang dari rak dan memberikannya.
Dengan penuh terima kasih, anak itu menerima keripik kentang, lalu menatap Cheng Feng, “Terima kasih ya, Kak!”
Cheng Feng tersenyum tipis, berniat pergi diam-diam.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat, disusul suara seorang gadis muda yang terdengar tak asing, nada bicaranya sedikit keras.
“Xiao Liang, kamu ke mana saja? Sudah dibilang jangan berkeliaran kalau di supermarket!”
“Kakak!” Anak laki-laki bernama Xiao Liang itu langsung berlari ke arah gadis yang berambut kuncir kuda.
Cheng Feng yang sudah hendak pergi, tanpa sadar menoleh, dan melihat wajah bersih dan cantik gadis itu, ia mengenakan seragam rok biru-putih SMA Daun Hijau.
Pandangan Cheng Feng dan gadis itu beradu.
“Cheng Feng?” Gadis itu berkedip, seperti memastikan apa ia tidak salah lihat.
“Xia Qingyao?” respon Cheng Feng justru mengernyitkan dahi.
Ia cuma mampir ke supermarket, tidak menyangka bisa kebetulan bertemu dengan ketua kelas yang paling suka ikut campur urusan orang lain di kelas.
Xia Qingyao ini, kalau ada di dunia anime, pasti jadi ketua komite disiplin.
Pokoknya, gadis yang penuh tanggung jawab seperti dia, bagi Cheng Feng justru kurang menyenangkan.
Karena pemilik tubuh ini dulu di sekolah sering berkelahi, Xia Qingyao jadi punya kesan buruk tentang Cheng Feng dan ingin membenahi kebiasaan buruknya.
Xia Qingyao sedikit membungkuk, mengelus kepala sepupunya, lalu menatap Cheng Feng, “Kenapa kamu sama sepupuku? Kamu enggak gangguin dia kan?”
Cheng Feng mendengar itu, mengernyit, lalu tertawa kecil dengan nada dingin, “Wah, Ketua Kelas, kamu ini mendiskriminasi aku ya? Aku nakal sih, tapi masa iya aku gangguin anak kecil, tanya aja langsung sama dia.”
“Kak, kakak ini orang baik,”
Melihat Xia Qingyao menatapnya, si anak laki-laki langsung berkata, “Tadi aku enggak bisa ambil keripik, Kakak ini yang bantuin aku, dan gratis, enggak minta bayaran!”
“Oh, begitu...” Xia Qingyao menggigit bibir, sadar ia salah paham.
“Kak, Kakak, ternyata kalian teman sekelas ya?” Si anak laki-laki menoleh ke dua orang itu, matanya penuh rasa ingin tahu.
Cheng Feng tak menjawab, toh Xia Qingyao pasti akan menjawab, dan benar, ia mengangguk pelan.
“Kak, menurut Kakak, kakakku gimana?”
Anak itu menoleh pada Cheng Feng, bercanda, “Karena Kakak bantu aku, aku bisa kenalin kakakku ke Kakak, lho!”
Wajah Xia Qingyao langsung merah padam, lalu menegur pelan, “Xiao Liang, jangan asal ngomong.”
Awalnya Cheng Feng sama sekali tidak tertarik, tapi untuk pertama kalinya ia melihat ketua kelas kebingungan seperti ini.
Ia pun jadi bersemangat, “Oke, kalau gara-gara kamu aku benar-benar bisa jadian sama ketua kelas, tiap minggu aku ajak kamu main ke taman hiburan.”
Biasanya di kelas, ia selalu tak bisa melawan ketua kelas, tapi kali ini ada kesempatan untuk menggodanya, tentu saja ia tak mau menyia-nyiakannya.
“Cheng Feng, kamu kok ikut-ikutan sih...” Xia Qingyao kesal, meski tahu itu cuma candaan, tapi sepupunya saja sudah bikin repot, sekarang Cheng Feng malah ikut mengerjai dia.
“Kenapa? Enggak mau ya?” Cheng Feng tersenyum ringan.
Setelah ragu sejenak, Xia Qingyao berkata dingin, “Di sekolah ada aturan siswa enggak boleh pacaran, kamu lupa ya?”
Cheng Feng cengengesan, mengangkat bahu, “Tapi ini bukan di sekolah.”
“Biar gimana juga, enggak boleh bercanda kayak gini!”
“Siapa bilang aku bercanda?”
Saat itu, lewatlah seorang ibu-ibu mendorong troli belanja, dan tanpa sengaja melihat mereka, lalu menutup mulut sembari tersenyum, “Wah, pasangan muda lagi bertengkar, nih.”
Hal itu membuat Xia Qingyao makin malu, ingin menjelaskan tapi ibu-ibu itu sudah berlalu.
“Kak, pikir-pikir aja deh, Kakak ini baik, kalian berdua juga cocok, kelihatan banget kayak jodoh,”
Anak laki-laki itu tergiur dengan ajakan Cheng Feng ke taman hiburan, ia pun menggoyang-goyangkan tangan sepupunya, ingin cepat-cepat 'menjual' kakaknya.
“Iya juga, Ketua Kelas. Atau kamu merasa enggak pantas sama aku?” Ucap Cheng Feng sengaja, “Tenang aja, aku enggak keberatan kok.”
“Cheng Feng, jangan ajari sepupuku yang macam-macam!” Xia Qingyao makin merah padam, menggigit bibir, lalu mengangkat anak itu dan segera pergi tanpa mau berlama-lama.
Hari ini, Xia Qingyao harus mengakui kekalahan.
Berhasil membuat ketua kelas kehabisan akal, suasana hati Cheng Feng jadi bagus. Ia lanjut ke bagian buah-buahan, memilih beberapa buah dan memasukkannya ke dalam kantong.
Setibanya di Dojo Pedang Cahaya, Cheng Feng memarkirkan motornya, mengunci, lalu masuk ke ruang latihan dengan membawa dua kantong belanja.
Para siswa sedang berlatih di dalam, dan Cheng Feng melihat Liu Shiyu yang sudah menunggunya.
Liu Shiyu pun menyapanya.
“Cheng Feng, senjata spiritual yang kamu minta sudah kubawa.”
ps: Terima kasih kepada Early Summer atas tiket bulannya. Aku perhatikan, setiap ada adegan 'panas' di novel, kamu langsung vote ya. Apa itu cuma perasaanku saja?